REDAKSI8.COM, BANJARMASIN – Meski angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurun tajam sepanjang Tahun 2025, namun resiko penularan di Kota Banjarmasin masih menjadi atensi utama.
Kota Seribu Sungai itu kembali mencatat posisi tertinggi kasus DBD dan Kabupaten Banjar, sehingga ditunjuk sebagai salah satu lokasi pelaksanaan uji percontohan vaksin DBD nasional.
Pada Tahun 2024, Kalsel melaporkan 3.236 kasus DBD dengan 16 kematian. Tahun ini, hingga 10 November 2025 jumlahnya turun drastis menjadi 460 kasus dengan satu kematian.
Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya mengurangi beban wilayah dengan risiko penularan tinggi.
Situasi itu mendorong Pemerintah Pusat memilih Banjarmasin sebagai salah satu dari tiga kota penerima vaksin hibah bersama Jakarta dan Palembang.
Ada sebanyak 7.500 siswa kelas 3 dan 4 Sekolah Dasar (SD) akan menerima vaksin mulai Januari 2026, dari total sekitar 30 ribu dosis yang dialokasikan.
Ketua Tim Dokter Anak Kalsel untuk vaksin dengue, Prof. dr. Edi Hartoyo menegaskan, program itu menjadi langkah penting untuk menguji efektivitas vaksin pada daerah endemis.
“Beberapa negara ASEAN sudah memulai fase satu. Provinsi tetangga, Kaltim juga sudah menggunakan, tetapi mereka beli mandiri,” ujarnya, Jumat (21/11/25).
Ia menyebutkan, biaya vaksin di luar program hibah masih tergolong tinggi. Dimana vaksin diberikan dalam dua dosis, yaitu pada Januari 2026 dan tiga bulan setelahnya.
Efektivitasnya diperkirakan mencapai 80 persen dalam mencegah infeksi, dan 85 persen mencegah gejala berat, dengan pemantauan hingga tiga tahun.
“Biayanya sekitar Rp1,2 juta per orang di praktik saya,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Selatan, Diauddin menekankan, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis pelaksanaan vaksinasi, tetapi juga penerimaan masyarakat.
“Setiap program baru selalu butuh waktu untuk membangun kepercayaan. Tidak ada paksaan dalam vaksinasi ini,” katanya.
Meski begitu, Ia optimistis, antusiasme publik akan tinggi, terlebih vaksin telah memperoleh sertifikasi halal dan terbukti mampu menekan risiko DBD.
Dengan adanya program vaksin dengue ini, diharapkan menjadi terobosan signifikan untuk mengurangi risiko kematian dan kasus berat DBD, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan kesehatan masyarakat di Kalimantan Selatan.
“Kami imbau masyarakat selalu memantau informasi resmi. Jangan mudah termakan informasi bohong atau hoaks,” tuntasnya.



