REDAKSI8.COM – Tak hanya terkenal bersih karena tidak menghasilkan emisi gas buang, mobil listrik modern juga terkenal irit energi, perawatan yang mudah dan handal, bahkan dari segi tenaga juga tak kalah bertenaga dibandingkan dengan mesin bensin atau mesin diesel. Hal inilah yang membuat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banjar, M. Rofiqi mengatakan, sempat melirik mobil listrik menjadi mobil dinasnya.
Ketua DPRD Banjar, M. Rofiqi ingin kendaraan dinasnya adalah mobil listrik, karena menurutnya biaya operasionalnya sangat rendah, jauh lebih rendah daripada mobil bermesin bensin yang mayoritas dipakai sekarang

Terlebih salah satu produsen mobil terkenal di dunia, yakni Hyundai meluncurkan dua varian mobil listrik secara bersamaan di Indonesia, yakni Ioniq dan Kona Electric pada November 2020 yang lalu.
Apalagi mobil listrik yang ditawarkan jauh harganya lebih murah yakni sekitar 600-700 juta Rupiah per unit, lebih murah dari mobil listrik produksi Amerika Serikat seperti Tesla yang rata-rata harganya sekitar 2-3 Miliar Rupiah per unit.
“Kami sempat ingin mobil dinas kami sebagai Ketua adalah mobil listrik. Sayangnya saat pengajuan, ternyata tak ada di E-Katalog, kalau tender juga ribet, akhirnya tak jadi,” ujarnya.
Mobil listrik ungkapnya jauh lebih murah untuk perawatan daripada kendaraan yang menggunakan mesin bensin atau mesin diesel yang sekarang digunakan.
“Tak ada perawatan bulanan, tak ada ganti oli dan sebagainya. Cuma perlu ganti ban saja kalau diperlukan. Untuk biaya listrik untuk pengisian juga lebih hemat dibandingkan kendaraan yang lain,” sebut Rofiqi.
Dengan penggunaan mobil listrik sebagai kendaraan dinas lanjutnya, cukup banyak anggaran operasional pemerintah yang bisa ditekan, terutama untuk biaya perawatan kendaraan dinas.
Dikutip dari Wikipedia, mobil listrik adalah mobil yang digerakkan dengan motor listrik, menggunakan energi listrik yang disimpan dalam baterai atau tempat penyimpan energi lainnya.
Mobil listrik sangat populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, tapi kemudian popularitasnya meredup karena teknologi mesin pembakaran dalam yang semakin maju dan harga kendaraan berbahan bakar bensin yang semakin murah.
Krisis energi pada tahun 1970-an dan 1980-an pernah membangkitkan sedikit minat pada mobil-mobil listrik, tapi baru pada tahun 2000-an lah para produsen kendaraan baru menaruh perhatian yang serius pada kendaraan listrik listrik karena harga minyak yang melambung tinggi pada tahun 2000-an serta banyak masyarakat dunia yang sudah sadar akan buruknya dampak emisi gas rumah kaca.
Mobil listrik memiliki beberapa kelebihan yang potensial jika dibandingkan dengan mobil bermesin pembakaran dalam biasa, yang mana mobil listrik tidak menghasilkan emisi kendaraan bermotor karena tidak membutuhkan bahan bakar fosil sebagai penggerak utamanya
Meskipun mobil listrik memiliki beberapa keuntungan potensial seperti yang telah disebutkan di atas, tapi penggunaan mobil listrik secara meluas memiliki banyak hambatan dan kekurangan karena harga mobil listrik masih jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan mobil bermesin pembakaran dalam biasa dan kendaraan listrik hibrida karena harga baterai ion litium yang mahal.
Faktor lainnya yang menghambat tumbuhnya penggunaan mobil listrik adalah masih sedikitnya stasiun pengisian untuk mobil listrik, ditambah lagi ketakutan pengendara akan habisnya isi baterai mobil sebelum mereka sampai di tujuan.
Beberapa pemerintah di beberapa negara di dunia telah menerbitkan beberapa insentif dan aturan untuk menanggulangi masalah ini, yang tujuannya untuk meningkatkan penjualan mobil listrik, untuk membiayai pengembangan teknologi mobil listrik sehingga harga baterai dan komponen mobil bisa semakin efisien.
Di negara Indonesia sendiri, pada tanggal 1 April 2012 pemerintah kucurkan 100 miliar rupiah untuk riset mobil listrik dan pada tanggal 10 Juni 2013 pemerintah tegaskan kendaraan listrik bebas pajak.



