REDAKSI8.COM, JOMBANG — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memasuki salah satu tahapan paling menentukan. Sembilan kiai sepuh resmi ditetapkan sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) setelah rapat pleno rekapitulasi suara di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 19.15 WIB.
Penetapan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Muktamar kali ini mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa.”


Berdasarkan hasil pleno, KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) memperoleh suara terbanyak dengan 486 suara. Posisi berikutnya ditempati TGK KH Nuruzzahri Yahya dengan 478 suara.
Selanjutnya, AG Dr KH Baharuddin HS, MA memperoleh 392 suara, KH Miftachul Akhyar 351 suara, KH Afifuddin Muhajir 340 suara, KH Anwar Iskandar 327 suara, KH Anwar Manshur 304 suara, Dr KH Abun Bunyamin, MA 297 suara, dan Prof Dr KH Said Aqil Siroj 273 suara.
Kesembilan nama tersebut selanjutnya menjadi bagian dari forum ulama yang memiliki posisi strategis dalam mekanisme kepemimpinan PBNU, termasuk dalam proses penetapan Rais Aam PBNU.
Penetapan AHWA mendapat apresiasi dari Ketua Umum Pejuang Islam Nusantara (PIN), KH Kholik atau Gus Kholik. Ia menyampaikan ucapan selamat kepada para kiai sepuh yang dipercaya mengemban amanah tersebut.
“Kami segenap Keluarga Besar Pejuang Islam Nusantara mengucapkan selamat dan sukses atas terpilihnya para kiai sepuh sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA),” ujar Gus Kholik.
Menurutnya, amanah yang kini berada di pundak sembilan kiai tersebut bukan sekadar bagian dari mekanisme Muktamar, tetapi juga menyangkut masa depan perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Gus Kholik berharap para anggota AHWA senantiasa memperoleh petunjuk dan kekuatan dari Allah SWT dalam menjalankan amanah serta menentukan kebijakan terbaik bagi NU.
“Semoga beliau-beliau semua senantiasa diberikan petunjuk oleh Allah SWT dalam mengambil kebijakan yang terbaik untuk kemajuan NU yang semakin bermanfaat dan bermartabat,” tuturnya.
Terpilihnya sembilan anggota AHWA menjadi salah satu momentum penting menjelang penentuan kepemimpinan tertinggi NU. Forum tersebut diharapkan mampu menghadirkan pertimbangan keulamaan yang matang, jernih, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Di tengah dinamika Muktamar ke-35, AHWA tidak hanya menjadi bagian dari prosedur organisasi. Keberadaannya juga merepresentasikan peran para ulama sepuh dalam menjaga kesinambungan tradisi, marwah organisasi, sekaligus memastikan arah perjuangan NU tetap berpijak pada nilai-nilai keagamaan dan kemaslahatan umat.
Dengan telah ditetapkannya sembilan anggota AHWA, perhatian publik dan warga Nahdliyin kini mengarah pada tahapan berikutnya: siapa yang akan mendapatkan amanah sebagai Rais Aam PBNU dan bagaimana wajah kepemimpinan NU ke depan.
Muktamar ke-35 pun menjadi ruang penting untuk menentukan arah perjalanan NU, bukan hanya bagi organisasi, tetapi juga bagi kontribusinya terhadap kehidupan umat, masyarakat, dan bangsa.



