Kondisi cuaca yang basah membuat tanaman cabai rentan akan terserang berbagai penyakit seperti hama patek, sehingga mengancam kepada produktivitas hasil panen.
Seorang petani cabai di Jalan Sukamaju Ujung, Jasiman mengungkapkan, curah hujan yang tinggi dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan beberapa tanamannya mulai layu dan berjamur.
“Pengaruhnya banyak, pertumbuhan pohonnya jadi lambat, terus buahnya banyak yang busuk terkena antraknosa atau cacar,” ujarnya, Sabtu (18/1/25).
Jamisan menyebutkan, upaya pengendalian hama menjadi lebih sulit karena pestisida yang digunakan mudah hanyut oleh air hujan.
Selain itu, biaya perawatannya juga meningkat, sementara harga jual cabai di pasaran cenderung fluktuasi.
“Kalau buahnya lagi normal hasilnya bisa 70-80 kilogram, karena musim hujan berkurang jadi sekitar 40-50 kilogram,” ucapnya.
Adapun jenis cabai yang ditanamnya adalah japlak pentul, dengan luas lahan sekitar 5.000 meter atau setengah hektare.
Sementara harga jual relatif berbeda, untuk cabai yang masaknya full Rp65 ribu per kilogram, sedangkan campur (ada yang mentah dan masak) itu dijual seharga Rp50 ribu per kilogram.
“Iya jauh naik, dari awal itu harga Rp20 ribu dan Rp23 ribu, sekarang sudah Rp50 ribu per kilogram yang dari petani,” jelasnya.
“Harga Rp50 ribu itu naiknya sudah sekitar 2 minggu yang lalu,” tambahnya.
Namun, hasil panen cabai dari kebunnya ini tidak dijual ke pengepul melainkan dijual sendiri melalui media sosial.
Sebab menurutnya, apabila dijual online jelas uang nya langsung dapat, tetapi kalau di pengepul bayarannya menunggu barangnya sampai laku terjual.
“Biasa dibawa dulu dan bayarannya nanti kalo barangnya sudah laku, kalau kita jual sendiri kan langsung dapat duit. Jadi jual online yang beli itu juga ada dari luar-luar daerah seperti Tanjung dan Batulicin,” pungkasnya.



