REDAKSI8.COM, SAMARINDA – Politisi PDI Perjuangan yang juga mantan anggota DPR RI, Izedrik Emir Moeis, kembali meluncurkan karya tulis terbarunya.
Kali ini, Izedrik mempersembahkan “Marhaenisme: Visi Sosialisme Indonesia” untuk mengenalkan kembali Marhaenisme sebagai akar lahirnya Pancasila.

Peluncuran dan bedah buku tersebut digelar di sebuah kafe di Samarinda, Senin (11/8/2025).
Tidak hanya dihadiri oleh oleh kader-kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), agenda itu dihadiri oleh mahasiswa dan aktivis yang tertarik dengan ajaran marhaenisme.
Marhaenisme, ideologi yang erat kaitannya dengan Presiden pertama RI, Soekarno, pernah menjadi pilar pemikiran politik Indonesia pada awal kemerdekaan.
Namun, pamornya meredup setelah kejatuhan Sukarno. Pada masa Orde Baru, melalui Tap MPRS Nomor 25/MPRS/1966, paham yang dianggap dekat dengan marxisme tersebut dilarang, sehingga marhaenisme nyaris hilang dari ruang publik.
Selama lebih dari tiga dekade, ajaran ini tidak lagi diajarkan di sekolah dan jarang dibahas secara akademis, bahkan sosok Sukarno dipisahkan dari ideologi yang ia gagas.

Dalam bukunya, Izedrik berusaha menghidupkan kembali marhaenisme sebagai ideologi yang berpihak kepada rakyat kecil.
Ia menekankan bahwa marhaenisme adalah kekayaan ideologi bangsa yang seharusnya menjadi kebanggaan.
Menurutnya, ajaran tersebut lahir dari semangat membangun negeri secara mandiri, bebas dari cengkeraman kapitalisme asing yang ingin menguasai sumber daya Indonesia.
“Marhaenisme itu ideologi dan cita-cita untuk memperjuangkan rakyat miskin agar bisa hidup lebih sejahtera, sekaligus menghapus keserakahan kapitalisme,” terangnya.
Sebagai langkah memperluas gerakan ideologis di daerah. Ke depan, Izedrik merencanakan distribusi buku ini secara gratis, termasuk dalam format PDF, serta mengadakan bedah buku lanjutan di sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Mulawarman (UNMUL) dan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Samarinda.
“Negeri ini kaya, hanya saja kekayaannya belum terdistribusi merata. Harapan saya, ideologi marhaenisme bisa kembali hidup dan menjadi semangat perjuangan generasi muda,” pungkas Izedrik.



