REDAKSI8.COM, KALSEL – Meski suhu udara mulai meningkat, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga akhir April 2026 terpantau masih terkendali.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel memastikan belum ada wilayah yang berstatus siaga darurat, dengan fokus pengawasan pada kondisi kelembapan lahan gambut.
Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra menegaskan, situasi karhutla masih relatif aman.
Bahkan curah hujan yang masih terjadi di sejumlah wilayah menjadi faktor utama menekan potensi kebakaran, meski tren suhu udara menunjukkan peningkatan.
“Memang kita rasakan udara cukup panas, namun alhamdulillah di daerah kita masih terjadi hujan. Sehingga risiko karhutla masih cukup rendah dan suhu permukaan masih relatif aman,” ujarnya, Rabu (29/4/26).
Berdasarkan pantauan satelit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kenaikan suhu permukaan memang terdeteksi, namun belum berada pada level yang mengkhawatirkan karena kelembapan lahan masih terjaga dengan baik.
“Memang diprediksikan puncak kemarau terjadi di pertengahan Mei ini, sampai dengan nanti menurun di bulan September ya, tapi terakhir saat ini memang masih relatif aman,” ungkapnya.
Ronny menjelaskan, Pemerintah Daerah (Pemda) belum menetapkan status siaga darurat maupun mendirikan posko khusus karhutla.
Namun, langkah antisipasi terus diperkuat, terutama melalui patroli rutin di kawasan rawan, khususnya lahan gambut.
Selain itu, pengawasan juga difokuskan pada tinggi muka air sebagai indikator utama kondisi lahan, selama tingkat perendaman masih mencukupi, potensi kebakaran dinilai dapat ditekan.
“Kita asumsikan apabila tinggi muka air masih mencukupi batas perendaman maka lahan gambut itu masih basah, sehingga potensi terjadinya karhutla di lahan gambut masih dapat dihindari,” jelasnya.
Saat ini, tinggi muka air di lahan gambut terpantau stabil pada kisaran 40 sentimeter hingga 1,5 meter, dan menunjukkan kondisi lahan masih cukup basah.
Meski demikian, BPBD telah menyiapkan langkah lanjutan apabila terjadi penurunan signifikan pada tinggi muka air, termasuk berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menjaga kelembapan lahan.
“Namun apabila kita temukan nantinya tinggi muka air mulai turun, kami akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk melakukan pembukaan pintu air untuk perendaman kanal-kanal yang ada di kawasan Ring 1 Bandara Syamsudin Noor,” tuturnya.
Di sisi lain, laporan kebakaran yang masuk sejauh ini masih berskala kecil dan dapat ditangani dengan cepat oleh tim gabungan di daerah.
“Kami bersama kawan-kawan di Kabupaten/Kota tetap bersiaga dan siap mengantisipasi segala potensi karhutla di daerah masing-masing, terutama di titik yang suhu permukaannya terpantau tinggi,” pungkasnya.



