REDAKSI8.COM – Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru melalui Forecaster Iklim Khairullah menyampaikan, secara umum Kalimantan Selatan (Kalsel) diprakirakan curah hujan berkisar dari rendah (51-100 mm/bulan) sampai dengan sangat tinggi (301-400 mm/bulan).
“Ini berdasarkan prakiraan iklim bulan Juni 2019 yang kami sampaikan tiap bulannya di buletin iklim,” ujar Khairullah, Selasa (18/6) saat dihubungi via WhatsApp.

Khairullah menambahkan, kebanyakan besarnya curah hujan di seluruh Kalsel pada kriteria menengah (101-150 mm).
“Khusus untuk Banjarbaru, kisaran hujannya diprakirakan pada bulan tersebut pada kriteria menengah (101-150 mm). Yang artinya di Banjarbaru telah memasuki musim kemarau, karena nilai hujannya lebih kecil dari 150 milimeter per bulan,” terangnya.
Untuk menentukan awal musim kemarau itu lanjut Khairullah menerangkan, adalah apabila curah hujan di suatu daerah di bawah 50 mm per dasarian (10 harian) diikuti beberapa dasarian selanjutnya (minimal 3 dasarian).
“Nilai di bawah 150 milimeter per bulan kan sama berarti berturut-turut di bawah curah hujan 50 milimeter per dasarian,” jelasnya.

Berdasarkan prakiraan musim kemarau 2019 yang telah disampaikan, lanjut Khairullah, puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada bulan Agustus dan September 2019 di Kalsel.
“Khusus Banjarbaru, puncaknya musim kemarau diprakirakan pada Agustus 2019,” sebutnya.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu analisis hujan Juni 2018, Banjarbaru saat itu juga pada kriteria menengah (101-150 mm) dengan sifat normal.
Sementara, untuk potensi rawan bencana yang harus diwaspadai tentunya berhati-hati bencana kekeringan. Khairullah mengatakan, kekeringan akan dimulai dengan kekeringan meteorologis.
“Selanjutnya kekeringan dapat berlanjut dengan berbagai bencana lain, seperti lebih mudahnya terjadi kebakaran hutan dan lahan,” katanya.



