REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Per tanggal 9 Desember 2025, harga cabai merah keriting di Kalimantan Selatan (Kalsel) melesat hingga 70,3 persen menjadi Rp63.000 per kilogram dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan serupa juga terlihat pada cabai rawit hijau yang alami kenaikan sebesar 67,8 persen dan cabai merah besar 76,2 persen.

Lonjakan harga tersebut terjadi akibat banyak kebun para petani terendam sehingga menyebabkan gagal panen.
“Kenaikan cabai merah ini disebabkan karena saat ini kebun atau kondisi cabai tadi ada banyak yang terendam yang mengakibatkan cabai kita ada gagal dipanen,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel, Ahmad Bagiawan, Rabu (10/12/25).
Ia menyebutkan, pasokan cabai yang beredar di pasar tradisional maupun ritel modern itu berasal dari sejumlah daerah di Kalimantan Selatan.
“Dari beberapa Kabupaten yaitu Batola, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Kabupaten Banjar juga banyak cabai. Walaupun beberapa komunitas cabai itu dipasok dari daerah Pulau Jawa,” sebutnya.
Meski dari data provinsi harga cabai tercatat Rp63 ribu perkilogram, namun di lapangan harganya cenderung lebih tinggi.
“Cabai merah keriting yang hari ini berkisar ada Rp87 ribu-Rp90 ribu per kilo kan sangat drastis naiknya Rp30 ribuan perkilogramnya,” katanya.
Oleh karena itu, Pemerintah mengimbau kepada masyarakat agar tidak panik mengingat kebutuhan meningkat jelang Nataru dan malam Senin 5 Rajab.
“Jangan terlalu panik, memang pada Natal dan tahun baru apalagi dibarengi dengan lima rajab ini kebutuhan bahan pokok tentu sangat meningkat,” ucapnya.
Bagiawan juga meminta supaya masyarakat tidak melakukan aksi borong bahan pokok, sebab hal itu dapat mendorong terjadinya kenaikan harga.
“Jadi kita berharap juga masyarakat jangan ada yang memanfaatkan situasi seperti ini dengan memborong, itu juga berdampak negatif,” tuntasnya.



