Penulis: Mahasiswi ULM, Ruri Rabiati

REDAKSI8.COM, BANJARBARU — Keberhasilan produksi di perkebunan kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh faktor pupuk, air, dan kondisi tanah, melainkan keseimbangan antara organisme pengganggu tanaman dan musuh alaminya.

Peningkatan populasi hama sering kali direspons dengan penggunaan pestisida.

Namun, penggunaan yang berlebihan atau tidak tepat sasaran berisiko meningkatkan biaya, paparan bagi pekerja, serta mengganggu organisme bermanfaat.

Hal ini mendorong pentingnya pergeseran dari penyemprotan rutin menuju Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berbasis pemantauan.

Salah satu praktik yang diterapkan ialah penanaman Turnera atau bunga pukul delapan di sepanjang jalan dan tepi blok kelapa sawit.

Penataan berupa hamparan semak berbunga kuning pucat yang tumbuh memanjang di tepi jalan kebun menunjukkan pemanfaatan ruang nonproduksi sebagai vegetasi pendukung.

Kendati demikian, tingkat kelimpahan musuh alami maupun efektivitas pengurangan serangan hama tetap memerlukan pembuktian melalui pengamatan lapangan.

Turnera berfungsi sebagai tanaman refugia, yakni vegetasi yang menyediakan tempat singgah, perlindungan, dan sumber pakan bagi organisme bermanfaat.

Dua spesies yang sering dibahas dalam literatur perkebunan sawit adalah Turnera subulata yang umumnya berbunga putih hingga krem dengan pusat gelap, serta Turnera ulmifolia yang umumnya berbunga kuning.

Penentuan spesies tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan warna visual karena pengaruh cahaya dan tahap pembungaan.

Pada T. ulmifolia, keberadaan nektarium ekstrabunga menjadi sumber nektar yang menarik interaksi serangga seperti semut dan tawon, meskipun tidak semua serangga yang hadir merupakan musuh alami hama sawit.

Sejumlah penelitian telah mencatat keberadaan serangga pemangsa (predator) dan parasitoid pada tanaman ini.

Penelitian oleh Margaretha dan Irsan (2024) di Sumatera Selatan menemukan 11 spesies serangga entomofag yang berasosiasi dengan T. ulmifolia dan T. subulata, terdiri atas delapan spesies predator dan tiga spesies parasitoid.

Sementara itu, studi Dibisono dkk. (2024) di perkebunan Adolina mencatat 327 serangga pada T. subulata, mencakup 233 predator dan 21 parasitoid ulat pemakan daun kelapa sawit.

Di Malaysia, Ahmad dkk. (2024) juga melaporkan kelimpahan dan indeks keanekaragaman musuh alami yang lebih tinggi pada petak T. subulata dibandingkan area antarbaris sawit.

Temuan-temuan tersebut menegaskan potensinya sebagai vegetasi konservasi, walaupun tidak berarti Turnera secara mandiri dapat mengatasi seluruh serangan hama.

Mekanisme pengendalian hayati bekerja melalui predator yang memangsa hama secara langsung dan parasitoid yang berkembang di dalam atau pada tubuh inang hingga menyebabkan kematian.

Penurunan tingkat serangan hama dan pengaruhnya terhadap hasil produksi perlu terus dinilai melalui pemantauan berulang, mengingat banyaknya serangga pada bunga belum tentu berbanding lurus dengan keberhasilan pengendalian di setiap blok.

Penanaman Turnera di tepi jalan kebun membentuk koridor vegetasi yang dapat menjadi tempat singgah serangga antarblok perkebunan sekaligus memudahkan inspeksi dan pemeliharaan.

Lokasi penanaman dapat mencakup tepi blok atau area terbuka lain yang tidak mengganggu operasional kebun, drainase, maupun lalu lintas kendaraan.

Penentuan lokasi dan jarak tanam perlu mempertimbangkan intensitas cahaya, kondisi tanah, keberlanjutan pembungaan, serta keselamatan kerja.

Manfaat utama Turnera yang terbukti adalah dukungannya terhadap keberadaan predator dan parasitoid.

Efektivitasnya akan optimal jika disertai pembatasan penggunaan insektisida yang tidak diperlukan.

Pengurangan penggunaan pestisida perlu dievaluasi dengan membandingkan blok berseling Turnera dan blok pembanding pada periode yang sama.

Adapun potensi Turnera dalam menutupi tanah, menekan gulma, atau mempertahankan kelembapan masih memerlukan pengujian lebih lanjut sesuai kondisi lingkungan setempat.

Penerapan praktis Dimulai dari pemilihan bibit sehat dan perbanyakan melalui stek batang.

Pemeliharaan dilakukan dengan menjaga ketersediaan bunga secara berkesinambungan.

Pemangkasan rumpun hendaknya dilakukan secara bertahap agar tidak menghilangkan sumber daya serangga secara mendadak.

Selain itu, aplikasi bahan kimia di sekitar tanaman refugia harus diatur agar tidak merusak tanaman pendukung maupun serangga bermanfaat.

Untuk mengukur keberhasilan secara objektif, pengelola kebun disarankan menggunakan petak pembanding.

Data yang perlu dicatat secara berkala meliputi kerapatan bunga, populasi musuh alami, tingkat kerusakan tanaman, frekuensi penggunaan pestisida, serta biaya operasional.

Indikator keberhasilan ditentukan oleh peningkatnya musuh alami yang relevan, terkendalinya hama di bawah ambang tindakan, dan berkurangnya intervensi kimia tanpa menurunkan produktivitas.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan yang memadukan produktivitas, keselamatan kerja, efisiensi ekonomi, dan perlindungan lingkungan.

Penerapan strategi memerlukan keterlibatan aktif pekerja dan pengelola kebun dalam mengenali jenis serangga, melakukan pemeliharaan, serta mengambil keputusan berbasis data.

Dengan demikian, keberadaan Turnera dapat menjadi bagian dari tata kelola perkebunan yang terukur dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.