Acara ini digelar sebagai wadah penting untuk menjembatani pemahaman antara regulasi pemerintah dan praktik di lapangan. Melalui forum ini, para peternak mendapat kesempatan berdialog langsung dengan wakil rakyat serta narasumber ahli mengenai berbagai isu krusial, seperti pencegahan penyakit hewan, pengelolaan limbah ternak, hingga pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Komisi II DPRD Kabupaten Banjar, Irwan Bora, Plt Kasubbag Umpeg Marlena, narasumber dari Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner drh Safda Farizy Ridho, Kepala Desa Labuan Tabu, serta masyarakat desa yang antusias mengikuti jalannya sosialisasi.
Dalam paparannya, Irwan Bora menekankan pentingnya implementasi Perda Nomor 5 Tahun 2022 sebagai landasan hukum dalam penyelenggaraan peternakan. Menurutnya, aturan ini mencakup berbagai aspek vital, mulai dari pengamanan pemasukan dan pengeluaran ternak, pencegahan penyakit hewan serta zoonosis, penguatan otoritas veteriner, hingga pemenuhan standar halal produk hewan.
“Peraturan daerah ini hadir untuk memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan bagi masyarakat, khususnya peternak. Penyelenggaraan peternakan dan kesehatan hewan harus dilakukan secara maksimal agar produksi pangan asal hewan tetap aman, sehat, utuh, dan halal,” jelas Irwan.
Lebih jauh, ia juga mengaitkan materi sosialisasi dengan program strategis nasional, yakni Makanan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, ternak unggas memiliki peran sentral sebagai pemasok bahan pangan bergizi, khususnya telur dan daging ayam, yang menjadi tulang punggung penyediaan gizi bagi anak sekolah, balita, hingga ibu hamil.
“Program MBG yang dicanangkan pemerintah akan berjalan optimal apabila sektor peternakan kita kuat. Unggas menjadi penopang utama karena mampu menyediakan pasokan protein hewani secara berkelanjutan dan terjangkau bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, narasumber dari Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh Safda Farizy Ridho, menyampaikan materi teknis mengenai penyakit yang kerap menyerang unggas, khususnya itik, serta strategi pengelolaan limbah ternak agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
Menurut Safda, penyakit pada itik dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari serangan virus, bakteri, kekurangan gizi, hingga parasit. Ia mencontohkan salah satu masalah serius yang kerap dihadapi peternak adalah stres pada itik, yang disebabkan oleh kondisi lingkungan bising, kepadatan kandang, kekurangan air, hingga perubahan pakan.
“Itik yang stres biasanya menunjukkan gejala bulu rontok di bagian dada dan sayap, tampak murung, menyendiri, produksi telur menurun, nafsu makan berkurang, hingga mengalami diare. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu produktivitas peternakan,” jelas Safda.
Untuk penanganan penyakit akibat bakteri, seperti kolera atau coryza, ia menyarankan penggunaan antibiotik yang dicampurkan ke dalam pakan atau air minum, misalnya Aureomycin atau Oxytetracycline. Namun, ia menekankan pentingnya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter hewan agar dosis dan jenis obat sesuai dengan kebutuhan ternak.
Selain itu, pemberian vitamin (khususnya vitamin A, B kompleks, dan E) serta mineral juga diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat pemulihan, terutama bagi itik yang mengalami stres atau kekurangan gizi.
Kegiatan sosialisasi ini mendapat sambutan positif dari masyarakat Desa Labuan Tabu. Para peternak menilai forum ini sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai aturan, sekaligus solusi praktis yang bisa diterapkan di lapangan. Dengan adanya sinergi antara pemerintah, DPRD, dan masyarakat, diharapkan sektor peternakan di Kabupaten Banjar semakin maju, sehat, dan berdaya saing, serta mampu mendukung ketahanan pangan daerah.



