REDAKSI8.COM, BANJAR, Depth News – Pemerintah Kabupaten Banjar terus memperkuat fondasi pembangunan ekonomi daerah dengan mengandalkan potensi yang dimiliki setiap sektor dan wilayah. Langkah tersebut dilakukan melalui Kajian Identifikasi Sektor Unggulan Kabupaten Banjar Tahun 2026 yang disusun untuk memetakan sektor-sektor ekonomi yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif serta berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.
Tahapan awal kajian ditandai dengan Ekspose Laporan Pendahuluan yang digelar di Aula Bauntung Lantai III Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Banjar, Jumat (2/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi sekaligus memastikan proses identifikasi sektor unggulan benar-benar disusun berdasarkan kondisi faktual Kabupaten Banjar. Ekspose diikuti sejumlah perangkat daerah dan kecamatan terkait, perwakilan bidang di lingkungan Bapperida, serta tim tenaga ahli dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pancasetia selaku pelaksana kajian.
Kegiatan dibuka Plt Sekretaris Bapperida Kabupaten Banjar, Dedi Nurmadi, didampingi Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RIDA), Nuri Ansari.
Dalam sambutannya, Dedi Nurmadi menegaskan bahwa kajian sektor unggulan memiliki arti strategis karena pembangunan ekonomi daerah membutuhkan dasar analisis yang kuat agar kebijakan dan program yang dirancang dapat lebih tepat sasaran.
Ia menyampaikan apresiasi kepada STIE Pancasetia yang telah melaksanakan kajian tersebut. Menurutnya, kajian diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai potensi, kekuatan, karakteristik serta sektor-sektor ekonomi yang memiliki peran strategis bagi pembangunan Kabupaten Banjar.
“Kajian ini tidak hanya diarahkan untuk menemukan sektor yang memiliki potensi, tetapi juga harus mampu menghasilkan arah dan rekomendasi yang aplikatif bagi pemerintah daerah,” ujar Dedi.
Menurutnya, hasil kajian nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu pijakan dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi daerah, mulai dari penentuan prioritas pembangunan, pengembangan investasi, peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, identifikasi sektor unggulan tidak berhenti pada pemetaan angka dan data ekonomi semata. Kajian diharapkan mampu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar, yakni sektor apa yang memiliki kekuatan untuk dikembangkan, apa yang menjadi kendalanya, serta strategi apa yang diperlukan agar potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
Dedi juga meminta seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan memberikan dukungan berupa data, informasi serta pandangan konstruktif selama proses kajian berlangsung.
Masukan tersebut dinilai penting agar hasil kajian tidak hanya kuat dari sisi metodologi dan akademis, tetapi juga mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan.
“Data dan informasi dari perangkat daerah serta pemangku kepentingan sangat diperlukan agar kajian benar-benar menggambarkan kondisi dan potensi Kabupaten Banjar secara objektif,” katanya.
Dalam proses identifikasi, sektor unggulan tidak semata-mata ditentukan berdasarkan besarnya kontribusi terhadap perekonomian daerah. Berbagai aspek perlu diperhitungkan secara bersamaan agar sektor yang dipilih benar-benar memiliki prospek pengembangan.
Dedi menjelaskan, kajian juga perlu melihat keterkaitan antarsektor, karakteristik dan potensi masing-masing wilayah, ketersediaan sumber daya, perkembangan investasi, kondisi pasar hingga peluang pengembangan ekonomi pada masa mendatang.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena satu sektor ekonomi pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Perkembangan sebuah sektor dapat memberikan dampak terhadap sektor lainnya, termasuk terhadap aktivitas perdagangan, jasa, tenaga kerja, investasi maupun peningkatan pendapatan masyarakat.
Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar hasil kajian memiliki pijakan yang kuat dan dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan pembangunan.
“Sinergi ini penting agar hasil kajian berbasis data dan analisis akademis benar-benar dapat memberikan manfaat bagi pembangunan daerah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Kabupaten Banjar, Nuri Ansari, mengatakan Ekspose Laporan Pendahuluan merupakan bagian penting dari keseluruhan proses kajian.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penyampaian hasil awal dari tim tenaga ahli, tetapi juga menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman serta memperkaya kajian melalui masukan dari perangkat daerah dan pihak-pihak terkait.
Nuri berharap proses identifikasi nantinya dapat memberikan gambaran yang lebih terarah mengenai sektor basis, sektor potensial dan sektor-sektor yang memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar.
“Identifikasi sektor unggulan ini diharapkan dapat mendukung perencanaan pembangunan yang berbasis bukti dan data,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan perangkat daerah menjadi penting karena masing-masing memiliki data dan pemahaman sektoral yang dapat membantu memperkuat hasil analisis.
Dengan adanya proses validasi dan diskusi sejak tahap awal, hasil akhir kajian diharapkan tidak hanya mencerminkan hasil pengolahan data statistik, tetapi juga mempertimbangkan dinamika dan kondisi aktual di lapangan.
Dalam paparannya, Dwi Ardi bersama tim tenaga ahli STIE Pancasetia menjelaskan metodologi yang digunakan dalam Kajian Identifikasi Sektor Unggulan Kabupaten Banjar Tahun 2026.
Kajian menggunakan desain deskriptif-analitis dengan pendekatan campuran atau mixed methods. Pendekatan ini menggabungkan analisis kuantitatif dengan pendalaman kualitatif sehingga sektor yang teridentifikasi secara statistik dapat dikaji lebih jauh berdasarkan kondisi faktual dan perspektif para pemangku kepentingan.
Pada tahap awal, analisis kuantitatif digunakan untuk mengidentifikasi sekaligus mengklasifikasikan sektor-sektor ekonomi berdasarkan sejumlah indikator.
Data utama yang digunakan antara lain Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten Banjar dan Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan 17 lapangan usaha selama periode 2021–2025.
Selain PDRB, kajian juga memperhatikan berbagai data pendukung yang berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan, kemiskinan, investasi, infrastruktur serta informasi sektoral lainnya.
Penggunaan rentang data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan masing-masing sektor, bukan hanya dalam satu periode tertentu, tetapi juga melihat kecenderungan pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi dari waktu ke waktu.
Untuk menentukan sektor yang memiliki keunggulan dan prospek pengembangan, tim menggunakan sejumlah metode analisis. Di antaranya analisis kontribusi sektoral, laju pertumbuhan, Static Location Quotient (SLQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Model Rasio Pertumbuhan (MRP), Shift Share Analysis, pembobotan serta overlay.
Analisis kontribusi dan pertumbuhan digunakan untuk melihat peranan serta perkembangan sektor. Sementara SLQ dan DLQ membantu melihat tingkat keunggulan sektor dibandingkan dengan wilayah pembanding dan dinamika keunggulannya dari waktu ke waktu.
Selanjutnya, Model Rasio Pertumbuhan dan Shift Share Analysis digunakan untuk melihat pola pertumbuhan serta posisi dan daya saing sektor dalam struktur ekonomi daerah.
Hasil dari berbagai analisis tersebut kemudian dipadukan melalui pembobotan dan overlay untuk menghasilkan klasifikasi sektor.
Berdasarkan hasil pengolahan dan pengelompokan indikator, sektor-sektor ekonomi nantinya akan diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu Very Potential, Potential, Less Potential, dan Not Potential.
Kategori Very Potential menjadi perhatian utama untuk dilakukan pendalaman lebih lanjut.
Sektor yang masuk kategori tersebut tidak serta-merta dianggap sebagai sektor yang harus menjadi satu-satunya prioritas pembangunan. Sebaliknya, sektor tersebut akan dikaji lebih mendalam untuk mengetahui faktor pendukung, hambatan, peluang serta strategi yang memungkinkan untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Pada tahap berikutnya, hasil analisis kuantitatif akan diperdalam melalui pendekatan kualitatif.
Tim akan melakukan wawancara dengan para pemangku kepentingan untuk menggali kondisi aktual sektor, termasuk permasalahan yang dihadapi pelaku usaha, ketersediaan sumber daya, dukungan infrastruktur, peluang pasar, kebutuhan investasi serta berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi pengembangan sektor.
Hasil wawancara kemudian akan dianalisis menggunakan analisis SWOT untuk memetakan kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities) dan ancaman (threats).
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan strategi yang lebih kontekstual. Artinya, rekomendasi kebijakan nantinya tidak hanya menjelaskan sektor apa yang unggul, tetapi juga memberikan gambaran mengenai mengapa sektor tersebut unggul, apa yang masih menjadi kendala, peluang apa yang dapat dimanfaatkan dan langkah apa yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk mendorong pengembangannya.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama seluruh peserta.
Forum tersebut dimanfaatkan untuk menggali masukan, mengonfirmasi data sekaligus memperkaya informasi mengenai kondisi aktual sektor-sektor ekonomi di Kabupaten Banjar.
Perangkat daerah dan peserta yang hadir diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan maupun informasi sektoral yang dinilai relevan dengan proses kajian.
Tahap ini menjadi penting karena data statistik perlu dibaca bersama dengan kondisi lapangan. Angka pertumbuhan atau besarnya kontribusi suatu sektor belum tentu secara otomatis menggambarkan seluruh persoalan yang dihadapi sektor tersebut.
Sebaliknya, sektor yang memiliki kontribusi relatif kecil juga dapat memiliki peluang pengembangan apabila didukung sumber daya, pasar, investasi, inovasi, infrastruktur maupun kebijakan yang tepat.
Karena itu, proses diskusi dan validasi menjadi bagian penting untuk memastikan interpretasi hasil kajian tetap sesuai dengan kondisi Kabupaten Banjar.
Melalui Ekspose Laporan Pendahuluan Kajian Identifikasi Sektor Unggulan Kabupaten Banjar Tahun 2026, Bapperida berupaya membangun basis informasi yang lebih objektif, terukur dan berbasis data dalam merancang arah pembangunan ekonomi daerah.
Laporan pendahuluan yang telah dipaparkan selanjutnya akan menjadi dasar bagi tahapan berikutnya, mulai dari penyempurnaan dan pengumpulan data, analisis lebih mendalam, pendalaman lapangan, hingga penyusunan strategi dan rekomendasi kebijakan.
Hasil akhir kajian diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai struktur ekonomi Kabupaten Banjar sekaligus mengidentifikasi sektor-sektor yang memiliki peluang untuk dikembangkan secara optimal.
Lebih jauh, kajian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menetapkan prioritas pembangunan ekonomi, membuka ruang investasi, meningkatkan nilai tambah produk daerah, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan produktivitas serta memperkuat daya saing ekonomi Kabupaten Banjar.
Dengan pemetaan yang berbasis data dan diperkuat analisis lapangan, pembangunan ekonomi diharapkan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga mampu menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Pada akhirnya, sektor unggulan bukan sekadar angka dalam struktur PDRB. Sektor tersebut diharapkan dapat menjadi titik masuk untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih produktif, membuka peluang usaha dan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah sumber daya daerah, serta memperkuat ketahanan ekonomi Kabupaten Banjar di tengah perubahan ekonomi yang terus berlangsung.
Bapperida Kabupaten Banjar Petakan Sektor Unggulan, Dorong Ekonomi Daerah Berbasis Potensi Lokal








