REDAKSI8.COM – Jumlah perumahan yang tersebar di Kabupaten Banjar sampai saat ini kurang lebih 540 lokasi. Perumahan tersebut merupakan perumahan yang disubsidi oleh pemerintah pusat agar warga yang tidak mampu bisa memiliki rumah.
Banyaknya perumahan tersebut tentunya banyak juga biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pembenahan fasilitas umum bagi perumahan tersebut, salah satunya adalah jalan dan drainase yang berada di komplek perumahan tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Kepala Bidang Penyedian Perumahan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Banjar Akhmad Rizqon bahwa dalam satu tahun, bidangnya hanya mendapatkan alokasi dana tidak banyak.
“Kita di bidang perumahan hanya mendapatkan anggaran sekitar 2 sampai 2,5 miliar saja pertahun, sedangkan perumahan di Kabupaten Banjar sekitar 540 lokasi, dan satu lokasi perumahan memiliki banyak jalan,” ungkapnya, Rabu (26/4/2023) kemarin.
Selain anggaran yang terbilang sedikit, Akhmad Rizqon juga menjelaskan bahwa banyak perumahan yang fasilitas umumnya belum diserahkan ke pemerintah daerah, makanya juga salah satu yang menjadi kendala untuk pembangunan terutama untuk perbaikan jalan.
Ia menjelaskan bahwa dari 540 lokasi perumahan di Kabupaten Banjar, baru ada 48 lokasi yang diserahkan oleh pengembang kepada pemerintah terkait dengan fasilitas umumnya, termasuk untuk jalan di lokasi perumahan tersebut dari tahun 2019.
“Baru ada sekitar 48 lokasi perumahan yang diserahkan oleh pihak pengembang, jadi sekitar 492 yang masih belum diserahkan. Dari 540 lokasi, ada juga perumahan yang ditinggalkan oleh pengembang,” bibirnya
Saat disinggung terkait dengan perumahan seribu atau Komplek Mustika Griya Permai yang berada di Cindai Alus Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar terkait jalannya banyak yang belum mempunyai aspal dan sudah banyak yang rusak. Akhmad Rizqon menjelaskan ada beberapa kendala yang dihadapi.
“Perumahan seribu itu merupakan perumahan yang lama, pernah ada penyerahan untuk fasilitas umumnya, tetapi secara bertahap, dan yang diserahkan adalah terkait lahan sarana prasarana untuk fasilitas umum,” ungkapnya.
Adapun terkait jalan, Rizqon mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada penyerahan jalan dari pihak pengembang. Dan sudah melakukan koordinasi dengan Badan Pertanahan dan sudah melakukan pengukuran, ternyata kondisi di lapangan beda dengan desain perumahan tersebut.
“Site plan awal beda dengan kondisi saat sudah dibangun dan hasil dari pengukuran jadi tumpang tindik, di pengukuran awal lahan itu untuk jalan dan drainase, tetapi nyatanya di bikin bangunan di tanah tersebut, dan harus dilakukan pembuatan site plan ulang,” tuturnya.
Terkait dengan perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), pihak pengembang hanya menyiapkan jalan sampai pengerasan saja, tidak berkewajiban jalan harus diaspal atau sebagainya. Beda dengan perumahan komersil, yang mereka jual adalah kawasan.
mengenai jalan rusak, Rizqon mengatakan masyarakat bisa menyampaikan usulan melalui mekanisme musrenbang dan untuk jalan-jalan di dalam komplek perumahan yang dibangun tersebut oleh badan usaha atau developer agar diserahkan terlebih dahulu asetnya ke pemerintah daerah.
Jadi yang mengusulkan perbaikan jalan tersebut dari pihak kecamatan atas permohonan dari desa/kelurahan. Lalu pihak kecamatan meng-input permohonannya di SIPD atau penyampaian usulan bisa melalui reses anggota DPRD Kabupaten Banjar.
Ia juga menjelaskan, untuk penanganan Prasarana Sarana Utilitas Umum (PSU) yaitu jalan ataupun drainase perumahan di Kabupaten Banjar ini pihaknya juga terkendala anggaran dana.
“Kebanyakan rata-rata para developer perumahan itu berfokus pada rumah yang dibangun layak huni, apalagi rumah subsidi bagi MBR sehingga untuk PSU belum memadai, beda dengan perumahan komersil itu kan jual lingkungan kawasan lengkap dan itu tidak subsidi,” jelasnya.
Yang saat ini perumahan yang menjadi keluhan adalah perumah seribu. Jalan di komplek tersebut mengalami rusak dan berlubang ini, jika setelah hujan, maka jalan tersebut akan menampung air, selain menghambat aktivitas masyarakat dan juga membahayakan pengendara khususnya roda dua lantaran rusaknya jalan tersebut.
Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang warga setempat Eni, katanya kondisi jalan tersebut saat ini memang dipenuhi kerikil, berdebu dan saat hujan tergenang air.
“Apalagi kalau musim hujan, airnya menggenangi jalan jadi nggak bisa lewat, terpaksa harus melawan arus, waktu panas juga debunya sangat mengganggu, dagangan saya jadi berdebu semua,” ungkapnya.
Lebih lanjut Eni mengatakan, warga sudah mengajukan ke RT setempat untuk meminta jalan tersebut diperbaiki, guna kelancaran dan keselamatan pengendara.
“Kami ada ngadu ke RT kalau jalan ini perlu diperbaiki, katanya masih diajukan dan disuruh nunggu dulu,” tuturnya.



