REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Banjarbaru dalam sepekan terakhir.
Walaupun tidak terjadi secara masif setiap hari, Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Banjarbaru terus memantau perkembangan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pneumonia seiring meningkatnya potensi paparan asap.

Bahkan, kabut asap dengan intensitas tipis hingga pekat mulai dirasakan warga Banjarbaru, terutama pada sore, malam, hingga menjelang pagi.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
Salah satu warga di kawasan Bandara Internasional Syamsudin Noor, Diyah mengaku, kabut asap sempat cukup pekat hingga mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pada dini hari.
“Kemarin Senin sekitar jam 04.30 sampai 05.00 Subuh, kabutnya tebal sekali. Jarak pandang baru jelas dalam jarak sekitar satu meter. Bau asapnya juga sangat terasa, begitu pula saat sore mendekati senja,” tuturnya saat diwawancarai, Kamis (23/7/26).
Menyikapi kondisi itu, RSD Idaman Banjarbaru terus memantau perkembangan penyakit yang berkaitan dengan paparan asap karhutla, khususnya ISPA dan pneumonia.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga 20 Juli 2026, jumlah kasus masih relatif terkendali meski potensi peningkatan tetap diwaspadai.
Sementara itu, Juru Bicara RSD Idaman Banjarbaru, Muhammad Abrar mengatakan, perbandingan data Juni dan Juli belum menunjukkan adanya lonjakan kasus yang signifikan karena periode pencatatan bulan Juli masih berjalan.
“Kalau membandingkan dengan data dari Juni dengan Juli memang belum ada kasus yang peningkatan yang signifikan. Memang kan kita ada memang beda 10 hari itu data yang kita pakai. Yang Juni 1-30, kemudian Juli 1-20 saja,” ujarnya.
Selama periode 1–20 Juli 2026, RSD Idaman mencatat 116 kasus ISPA dan 65 kasus pneumonia.
Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan data sepanjang Juni yang mencapai 116 kasus ISPA dan 115 kasus pneumonia, namun rumah sakit menilai situasi tetap perlu dipantau karena musim kemarau masih berlangsung dan potensi kabut asap masih tinggi.
Kendati demikian, untuk mencegah meningkatnya gangguan kesehatan akibat paparan asap, masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara menurun.
“Supaya tidak terjadi lonjakan kasus kita memberikan imbauan kalau ada masyarakat yang tidak terlalu berkepentingan maka bisa tetap di rumah atau kalau ajrus keluar juga memakai masker. Serta memperbanyak konsumsi air putih yang banyak,” tutupnya.



