REDAKSI8.COM – Wabah Corona Virus Disesase 2019 (Covid-19) saat ini masih mewabah di Indonesia. Kabupaten Banjar termasuk salah satu daerah yang tetpapar dan mengakibatkan 1 orang meninggal. Data terupdate, Kamis (16/4/2020) pukul 16.00 Wita
Seperti yang disampaikan oleh sekretaris daerah kabupaten Banjar HM Hilman, Alhamdulillah ODP Kabupaten Banjar sudah jauh turun jadi 69 dan dari 6 yg terkonfirmasi positif tinggal 3 yg dirawat, 2 sdh sembuh dan 1 meninggal. Tetapi Banjarbaru ODP nya melesat naik menjadi 227 dan positifnya naik menjadi 4.

“Kita tetap waspada, karena Banjarbaru sangat dekat dengan Kabupaten Banjar, dan arus perjalanan antar kedua daerah tidak tertutup, orang Banjarbaru ke Martapura dan orang Martapura ke Banjarbaru bulak-balik tanpa terkendali, karena itu sangat rentan kemungkinan penyebaran wabah. Itu tetap waspada dan ikuti anjuran pemerintah,” tambahnya
HM Hilman mengajak untuk belajar dari Pengalaman Italy dan Spanyol. Pertama yang terkena virus corona hanya 1 atau 2 orang saja, tapi pemerintah dan masyarakatnya menganggap biasa, kebiasaan dalam kerumunan massa seperti nonton Liga Italy, kumpul-kumpul di Cafe dalam jumlah besar dianggap hal biasa.
Semua menganggap enteng. Selanjut apa yang terjadi? 1,2, atau 3 minggu berlalu, tidak terjadi apa-apa. Tapi setelah 1 bulan apa yang terjadi ? Terjadi penularan wabah ke dalam jumlah yang besar. Negara modern sekelas Italy dan Spanyol dengan fasilitas kesehatan dan peralatan modern saja, tak sanggup mengatasi orang2 yang terkena corona, Rumah Sakit tak sanggup menampungnya, maka banyak pasien yang tidak terawat, dan banyak jenazah yang tidak tertangani bergelimpangan.
Bayangkan kalau terjadi di tempat kita (na’udzu billah) sepuluh orang aja yang terkena dalam waktu bersamaan, sanggupkah rumah sakit kita menampungnya dengan segala keterbatasan? Gimana dokter dan perawatnya yang menanganinya? Dari 10 yang terkena itu bila tidak terisolasi, maka akan menyebarkan lagi virusnya secara multi level ke dalam jumlah yang besar, pernahkah kita terpikir ke sana? Jangan berpikir wah kadapapa jar. Jakarta juga awalnya cuma 1 atau 2 orang, sekarang sudah ribuan yang terkena.
Jadi harus dipahami, mengapa pemerintah melarang pengumpulan orang dalam jumlah yg banyak misalnya spt meniadakan shalat Jum’at untuk sementara? Itu bukan melarang shalat jum’atnya, tapi hanya melarang pengumpulan orang dlm jumlah yg banyak. Karena kalau dalam waktu yg bersamaan, bila terjadi terkena virus dlm jumlah orang yg banyak, pasti petugas kesehatan dan Rumah Sakit kewalahan menanganinya. RSU Ratu Zalecha hanya menyiapkan 1 ventilator dengan 4 bed untuk penanganan covid-19, kalau 10 orang yang terkena, kamana menampungnya? Apalagi kalau lebih. Ventilator lain adalah untuk menangani pasien berbagai penyakit yang lain.



