REDAKSI8.COM – Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru diwakili oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru yang juga Ketua Pokja Inklusif Sartiyuni, menghadiri sekaligus membuka kegiatan Sosialisasi Pendidikan Inklusif di wilayah Kecamatan Landasan Ulin, di Aula Kecamatan Landasan Ulin Banjarbaru, Selasa (10/4/18).
Sekretaris Kecamatan Landasan Ulin, Narasumber Husnul Khatimah dari Pokja Pendidikan Inklusif Kota Banjarbaru, Ketua RT/RW dan Tokoh agama se Kecamatan Landasan Ulin turut hadir dalam acara ini.


Panitia sosialisasi, Lia mengatakan, maksud dan tujuan diadakannya Sosialisasi Pendidikan Inklusif di wilayah Kecamatan Landasan Ulin adalah untuk menambah wawasan bagi para peserta sosialisasi terkait Pendidikan Inklusif di Kota Banjarbaru.
Ia berharap, dengan adanya sosialisasi ini, para peserta dapat membagikan ilmu pengetahuan yang didapat kepada masyarakat umum tentang apa artinya Pendidikan Inklusif.
Materi yang disampaikan kepada peserta adalah sosialisasi terkait Pendidikan inklusif.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Sartiyuni mengatakan, pada Peringatan Hari Anak Nasional beberapa waktu lalu, Kota Banjarbaru ditunjuk dan dijadikan sebagai kota inklusif.
“Dimana bila ada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mau masuk ke sekolah reguler, maka harus diterima dengan syarat di sekolah tersebut harus ada guru khusus yang menangani anak Berkebutuhan Khusus. Karena sekolah inklusif berbeda dengan Sekolah Luar Biasa (SLB),” ujarnya.
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak luar biasa. Karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.
“Bagi penyandang tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille (tulisan timbul), sedangkan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat (bahasa tubuh). Oleh karena itulah sangat penting Sosialisasi Pendidikan inklusif dilaksanakan agar masyarakat dapat menerima adanya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ini di masyarakat,” tambah Sartiyuni.
Husnul Khatimah selaku narasumber dalam paparannya menyampaikan agar masyarakat bisa mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya tentang layanan pendidikan inklusif.
Tidak hanya itu, masyarakat juga dapat terlibat dan berperan aktif serta berpartisipasi dalam upaya menciptakan iklim pendidikan yang kondusif dengan memberikan dukungan sumber daya dalam perencanaan, pengawasan dan evaluasi program.
Selain itu, agar masyarakat dapat menjadi motor penggerak kesadaran pada setiap keluarga untuk lebih peduli dalam mempersiapkan generasi penerus dengan lebih baik lagi (sebagai langkah intervensi dini).



