Keberadaan Sumur Bor di Landasan Ulin & Liang Anggang
REDAKSI8.COM – Keberadaan sumur bor di sejumlah titik di kawasan Landasan Ulin dan Liang Anggang, secara umum memiliki peran yang cukup vital dalam membantu penanganan karhutla.
Kedua wilayah ini, ketika musim kemarau tiba, cukup sering menjadi ‘langganan’ karhutla.
Namun, faktanya di lapangan, ada sejumlah sumur bor yang tidak bisa dimanfaatkan dan mengalami kerusakan.
Kepala BPBD Kota Banjarbaru Suryanoor Ahmad, melalui Pelaksanaan Subbid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Banjarbaru Yunus Ariyandie menyampaikan, pihak BPBD Kota Banjarbaru sebagai pengguna sumur bor merasakan sumur-sumur bor yang ada kurang begitu efektif dalam hal penanganan karhutla.
”Hal ini bisa kita lihat bersama karena ada beberapa titik sumur bor, bisa dikatakan rusak. Kemudian ada juga pipanya meleleh, sangat bisa dipastikan sumur bor itu tidak bisa dimanfaatkan,” beber Yunus kepada Tim Liputan Redaksi8.com saat berada di salah satu titik sumur bor, Jum’at sore (4/1).

BPBD Kota Banjarbaru Belum Bisa Mendata Secara Pasti
Yunus menambahkan, dari sebanyak 50 titik sumur bor yang ada di Kota Banjarbaru, BPBD Kota Banjarbaru belum bisa mendata secara pasti berapa jumlah sumur bor yang mengalami kerusakan.
”Jadi kami belum bisa memberikan statemen sumur-sumur bor di titik lain masih berfungsi atau tidak,” tukasnya.
Selain itu, kata Yunus, untuk daerah yang berpotensi terjadinya karhutla, sumur bor yang ada di kawasan rawan karhutla itu tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.
”Bersama dengan instansi pengguna sumur bor lainnya seperti Damkar dan para relawan, mereka mengkonfirmasi bahwa sejumlah sumur bor memang tidak bisa digunakan,” tandasnya.

Terlepas dari berfungsi atau tidaknya sumur-sumur bor yang ada, BPBD Kota Banjarbaru tetap berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat Kota Banjarbaru.
Terlebih, saat berjibaku melawan karhutla yang hampir setiap hari terjadi beberapa waktu lalu, BPBD Kota Banjarbaru juga didukung oleh Pemerintah Kota Banjarbaru.
”Jadi kami secara spirit memaksimalkan sarana dan prasarana yang ada. BPBD Salam Tangguh!” tegasnya.
Dinas Lingkungan Hidup Hanya Sebagai Pendamping
Proyek pembuatan sumur bor di lahan rawa dan gambut di Kota Banjarbaru oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) Kalimantan Selatan, diduga tidak sesuai dengan aspek pengerjaan.
Untuk wilayah Kota Banjarbaru, sebanyak 50 titik sumur bor dikerjakan oleh LPPM Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada tahun 2016 lalu.
Titik-titik itu tersebar di daerah rawan terjadinya karhutla, 20 titik di Kelurahan Syamsudin Noor dan 30 titik lainnya di Kelurahan Guntung Payung.

Kasi Pengelolaan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Rolly Yahmi ST, yang dulunya menjabat sebagai Kasi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan saat pembuatan sumur bor berjalan menyampaikan, pihaknya hanya diminta oleh BRG untuk melakukan pendampingan saat LPPM ULM mengerjakan sumur-sumur bor itu.
“Kami tidak dilibatkan secara langsung (penuh),” ungkap Rully.
Sumur Hanya Memiliki Kedalaman sekitar 18-22 Meter
Lebih lanjut Rully menerangkan, dari 50 titik sumur bor yang dibangun, beberapa diantaranya tidak terpasang pipa dan sumurnya pun tidak mengandung air karena masih dangkal, lantaran hanya memiliki kedalaman sekitar 18 sampai 22 meter dari atas permukaan tanah.

“Kalau saran kami sumur itu lebih dalam lagi. Untuk menjangkau air, sumur mesti memiliki kedalaman sampai 150 meter, kemudian dilakukan pemompaan (secara rutin) untuk memancing air agar selalu terisi,” ujarnya.
Di lain pihak, saat hendak dikonfirmasi perihal sumur bor oleh Tim Liputan Redaksi8.com Kamis sore (3/1), Kepala BRG Kalimantan Selatan Saut Nathan serta struktur inti BRG sedang tidak berada di kantor (keluar).
Sementara staff BRG yang ada di kantor, masih belum berani mengeluarkan pernyataan/statemen resmi terkait sumur bor tersebut.



