REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Asap hitam membumbung tinggi. Kobaran api melahap bangunan. Jeritan dan kepanikan warga seakan kembali terdengar dalam ingatan. Tepat di momen peringatan 23 Mei, masyarakat Kalimantan Selatan kembali diajak mengenang salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Banua, Tragedi Jumat Kelabu 1997.
Peristiwa yang membekas dalam memori warga Banjarmasin itu kini kembali “hidup” melalui sebuah karya seni lukis karya pelukis asal Kabupaten Barito Kuala yang kini menetap di kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru, Mulyani (49), atau yang akrab disapa Kang Mul.

Lewat sebuah kanvas berukuran besar, Kang Mul menghadirkan suasana mencekam di kawasan Mitra Plaza saat tragedi terjadi hampir tiga dekade silam. Dalam lukisan tersebut, bangunan yang terbakar digambarkan dengan warna-warna gelap dan nyala api yang menyala ganas. Kepulan asap hitam memenuhi langit kota, sementara sosok-sosok warga tampak berlarian menyelamatkan diri di tengah kepanikan.
Setiap detail dalam lukisan terasa begitu hidup. Bukan sekadar gambar peristiwa, tetapi seperti potongan waktu yang membekukan detik-detik paling menegangkan dalam sejarah Banjarmasin.
Kang Mul mengungkapkan, ide melukis tragedi tersebut berawal dari diskusinya bersama seorang jurnalis, Rendy Trisna. Dalam perbincangan itu, muncul keinginan agar Tragedi Jumat Kelabu tidak hanya tersimpan dalam arsip berita dan cerita lisan, tetapi juga diabadikan dalam bentuk visual yang mampu menyentuh emosi generasi masa kini.
“Awalnya dari obrolan dengan Bang Rendy. Kami sama-sama merasa tragedi sebesar ini perlu diingat dan divisualisasikan agar orang bisa merasakan suasananya,” ujar Kang Mul.
Berbekal berbagai referensi dan konsep yang mereka susun bersama, Kang Mul mulai menuangkan gagasan itu ke atas kertas sketsa. Prosesnya tidak singkat. Ia berusaha menyusun komposisi yang bukan hanya akurat secara visual, tetapi juga mampu menghadirkan atmosfer ketakutan dan duka yang pernah menyelimuti kota saat itu.

Kedekatan emosional Kang Mul dengan lokasi tragedi menjadi kekuatan utama dalam lukisan tersebut. Ia mengaku pernah bekerja di kawasan Mitra Plaza beberapa bulan sebelum peristiwa memilukan itu terjadi.
“Saya pernah bekerja di kawasan Mitra Plaza beberapa bulan sebelum tragedi terjadi,” tuturnya lirih.
Pengalaman itu membuat proses melukis terasa sangat personal baginya. Saat menyapukan warna demi warna di atas kanvas, ingatan tentang kawasan yang pernah dikenalnya perlahan kembali muncul. Ia seolah tidak hanya melukis bangunan yang terbakar, tetapi juga merekam rasa kehilangan dan kepanikan yang pernah dirasakan masyarakat Banua kala itu.
Dalam proses kreatifnya, Kang Mul mengaku berusaha menghadirkan lebih dari sekadar bentuk visual. Ia ingin penikmat lukisan bisa ikut merasakan suasana yang pernah terjadi pada 23 Mei 1997 ketegangan, kepulan asap, hiruk-pikuk warga, hingga rasa takut yang menyelimuti kota.
Setiap goresan kuas menjadi refleksi atas luka kolektif masyarakat. Warna-warna gelap dipilih untuk menggambarkan suasana duka, sementara semburat merah api menjadi simbol amarah dan kehancuran yang kala itu melanda Banjarmasin.
Bagi Kang Mul, karya tersebut bukan hanya tentang mengenang tragedi, tetapi juga upaya menjaga ingatan sejarah agar tidak hilang ditelan zaman. Ia berharap generasi muda Kalimantan Selatan tetap mengenal berbagai peristiwa penting yang pernah membentuk perjalanan masyarakat Banua.
Menurutnya, seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan sejarah dengan cara yang lebih menyentuh dan mudah dipahami, terutama bagi anak-anak muda yang tidak mengalami langsung tragedi tersebut.
“Kalau sejarah hanya dibaca lewat tulisan, mungkin sebagian orang cepat lupa. Tapi lewat lukisan, orang bisa merasakan suasananya,” ungkapnya.
Kini, lukisan Tragedi Jumat Kelabu itu menjadi bagian dari koleksi pribadi Rendy Trisna. Meski demikian, Kang Mul berharap suatu hari nanti ia kembali dapat mengangkat tema-tema sejarah Banua dalam karya berikutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap masa lalu.
Di tengah peringatan 29 tahun Tragedi Jumat Kelabu, karya Mulyani menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya hidup dalam dokumen dan catatan berita. Sejarah juga dapat berbicara lewat warna, kanvas, dan goresan kuas yang menyimpan duka, ingatan, serta pesan agar peristiwa serupa tak pernah terulang kembali.



