Kabut tipis masih menyelimuti Pegunungan Meratus ketika ruang Laboratorium Komputer SMPN 1 Paramasan mulai berdenyut.
Di tengah kesunyian pagi yang syahdu, satu per satu siswa kelas 9 melangkah masuk dengan seragam rapi.

Mereka duduk tegak di depan deretan laptop yang berjejer di atas meja kayu sederhana.
Di luar jendela, hijau pegunungan terbentang luas, kontras dengan suasana di dalam ruangan yang mulai diselimuti ketegangan.
Salah satu siswa, Akhmad Riduan (16), tampak gelisah di sudut ruangan.
Siswa asal Dusun Munggulahung, Desa Paramasan Bawah ini berkali-kali merapikan posisi duduknya, matanya tak lepas dari layar di hadapannya.
Bagi Riduan, ini bukan sekadar ujian biasa. Ini merupakan kali pertama ia mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Akan tetapi, asa itu sontak raib tak bersuara ditengah harapan dan dopamin menggebu.
Badai teknis datang tanpa suara, nama pengawas dan kartu login mendadak raib dari sistem.
Bagaimana kisah perjuangan Riduan dan kawan-kawan beserta para guru menghadapi badai teknis TKA? ikuti Redaksi8.com dalam menurunkan tulisannya.
REDAKSI8.COM, BANJAR – Perjuangan Riduan untuk sampai di titik Ia bisa mengikuti TKA tidak murah, ia mesti menaklukkan jalan berbatu dan jarak yang jauh dari dusun terpencil demi tiba lebih awal.
“Dari rumah saya memang sudah niat berangkat lebih awal. Takut terlambat dan ingin benar-benar siap ikut ujian TKA,” ungkapnya, Selasa (7/4/2026).
Awalnya, tepat pukul 05.50 WITA, sistem terlihat berjalan normal. Namun, ketenangan itu hanya bertahan 20 menit.
Tiba-tiba sistem menujukan nama pengawas dan kartu login mendadak raib.
Di ruang itu, tak ada keluhan. Tak ada riuh protes.
Para siswa memilih diam, memeluk kecemasan mereka dalam keheningan.
Riduan mengakui detak jantungnya sempat tak beraturan saat instruksi mulai mengerjakan soal tak kunjung datang.
“Sudah siap dari pagi, tapi belum bisa mulai. Jadi agak cemas juga,” ujarnya pelan sembari terus menggenggam mouse, seolah bersiap menerjang soal kapan saja.
Bagi anak-anak di pedalaman Meratus, hambatan teknologi adalah ujian tambahan selain materi pelajaran.
Namun, Riduan menolak menyerah pada keadaan.
“Saya ingin tetap ikut sampai selesai. Ini kesempatan penting, jadi harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.
Menurut Riduan, TKA merupakan anak tangga pertama untuk memanjat masa depan yang lebih cerah, melampaui bukit-bukit yang mengepung dusunnya.
“Meskipun tadi sempat ada kendala, saya tetap semangat. Yang penting bisa belajar dan mencoba,” tambahnya.
Rilo Adityo, sang Proktor TKA, sontak merespon peristiwa itu.
Ponselnya terus menempel di telinga, berkoordinasi cepat dengan tim teknis kabupaten.
Di hadapannya, puluhan mata siswa menatap penuh harap pada layar yang ‘membatu’.
“Momen itu cukup menegangkan. Tapi kami berusaha tetap tenang, supaya siswa juga tidak ikut panik,” ujar Rilo mengenang suasana genting tersebut.
Harapan mulai muncul pukul 07.00 WITA melalui solusi teknis sementara. Hingga akhirnya, pada pukul 09.30 WITA, misteri gangguan itu terjawab.
Sistem TKA Nasional sedang mengalami pemeliharaan serentak.
“Katanya sistem TKA Nasional tengah dalam proses pemulihan dan peningkatan secara serentak,” jelas Rilo.
Kesabaran panjang itu akhirnya terbayar tepat pukul 10.00 WITA.
Saat sistem dinyatakan pulih, sesi kedua pun dimulai tanpa kendala berarti.
Ruangan yang tadinya tegang berubah menjadi “medan perang” intelektual yang hening dan penuh konsentrasi.
Menanggapi drama pagi itu, Kepala SMPN 1 Paramasan, Rahmiatun, memandang kejadian ini dari perspektif berbeda.
Baginya, hambatan sistem justru menyingkap ketangguhan mental anak didiknya.
“Ini bukan hanya soal kesiapan teknologi, tapi juga mental. Kami sangat mengapresiasi tim proktor dan siswa yang tetap tenang dan kondusif,” beber Rahmiatun.
Pagi itu di Paramasan, pelajaran terpenting tidak muncul di layar laptop, melainkan tertulis di wajah-wajah siswa seperti Riduan.
Meski sinyal dan sistem bisa terputus, semangat untuk belajar tetap harus menyala tegak setinggi puncak Meratus.



