
Sementara kabar krisis Oksigen di Rumah Sakit daerah Idaman (RSDI) Banjarbaru ungkap Direktur RSDI Banjarbaru melalui KTU RSDI Banjarbaru, Muhammad Firmansyah, sudah teratasi sejak kemarin malam.
“Alhamdulillah, tadi malam RSDI Banjarbaru telah memdapatkan suplay oksigen sebanyak 15 ton. Dengan demikian krisis oksigen yang sempat terjadi beberapa hari lalu sudah teratasi,” beber Firmansyah melalui sambungan via whatsapp.
Terhitung sejak Sabtu (24/7), Kalimantan Selatan mengalami krisis oksigen. Akibatnya, pasokan oksigen untuk perawatan pasien covid-19 sangat terbatas.
Tak terkecuali RSDI Banjarbaru menurut Firman, pihaknya telah melakukan upaya-upaya dalam menyikapi hal tersebut.
“Semua yang terjadi di rumah sakit kami laporkan kepada Walikota Banjarbaru,. Bahkan untuk mendapatkan oksigen Pak Walikota dan Forkompinda langsung turun kelapangan berkoordinasi dengan PT Samator bahkan sempat begadang di sana,” ujarnya.
PT Samator paparnya, merupakan satu-satunya produsen yang masih bisa memproduksi oksigen. Dengan kemampuan produksi yang sangat terbatas.
“Alhamdulillah melalui lobby yang dilakukan Walikota bersama jajaran Forkompimda, RSDI mendapatkan alokasi yang cukup sementara waktu,” sambungnya.
Dalam upaya menghemat ketersediaan oksigen lebih jauh, RSDI melakukam penutupan layanan IDG dan tidak menerima pasien baru. Fokus merawat pasien yang tengah dirawat inap.
Firman mengakhiri, dengan demikian RSDI mendapatkan 75 tabung oksigen yang didistribusikan secara bertahap.
Sementara, jumlah pasien yang terkonfirmasi meninggal dunia karena Covid sejak Sabtu 24 Juli sudah mencapai 27 orang, dan meninggal sebelum dirawat 2 orang.
“Saat ini RSDI sedang melakukan skrining terhadap seluruh karyawan/wati, karena dalam beberapa hari terakhir hasil pemeriksaan swab PCR, sebanyak 116 karyawan baik itu tenaga kesehatan maupun non kesehatan terkonfirmasi terpapar covid-19,” Ia menukas.
“Sehingga beberapa layanan terpaksa ditutup, karena banyak yang melakukan isolasi mandiri,” pungkasnya.



