REDAKSI8.COM, BANJARMASIN – Ancaman tingginya angka defisiensi vitamin D pada penderita tuberkulosis (TB) di Kalimantan Selatan mendorong tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengambil langkah konkrit.
Dipimpin oleh dr. Fidya Rahmadhany Arganita, tim akademisi tersebut resmi meluncurkan Program Nutrisi HELIO di Puskesmas Kelayan Timur, Banjarmasin, guna memperkuat daya tahan tubuh pasien selama masa pemulihan.

Inovasi pendampingan tersebut mengacu pada berbagai temuan ilmiah yang menggarisbawahi pentingnya status gizi optimal dan asupan nutrisi seimbang untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh pasien TB.
Berangkat dari filosofi kata helios yang berarti matahari, program HELIO tidak hanya mendorong pemenuhan asupan protein yang terjangkau, tetapi juga mengedukasi pasien mengenai pentingnya paparan sinar matahari secara aman sebagai pendorong semangat dan kesehatan fisik hingga masa pengobatan usai.
Meski berfokus pada perbaikan gizi dan gaya hidup, dr. Fidya menegaskan, intervensi nutrisi dan sinar matahari ini dirancang sebagai pendukung pendamping, bukan penyembuh utama.
“Obat antituberkulosis (OAT) tetap menjadi terapi utama dan satu-satunya pengobatan yang terbukti efektif menyembuhkan TB apabila dikonsumsi sesuai aturan hingga tuntas,” katanya.
“Program HELIO hadir untuk mendampingi pasien supaya mampu menjalani pengobatan dengan kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang lebih baik melalui edukasi gizi dan penguatan perilaku hidup sehat,” sambungnya.
Guna memastikan pesan edukasi tersampaikan dengan tepat, rangkaian kegiatan diawali dengan pelatihan penggunaan booklet edukasi Mentari Kelayan yang melibatkan 20 tenaga kesehatan dan kader lokal.
Tim FKIK ULM bersama para mahasiswa kemudian menggelar penyuluhan langsung kepada para pasien menggunakan pendekatan bahasa sederhana dan visual interaktif.
Sebagai instrumen pemantauan jangka panjang, tim menyerahkan sarana edukasi ke pihak puskesmas serta mengenalkan Kartu HELIO-Monitor untuk mencatat kebiasaan sehat pasien sehari-hari.
Pendekatan komprehensif ini dinilai menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai penularan dan meningkatkan angka kesembuhan TB di tingkat pelayanan kesehatan dasar.
dr. Fidya menyakini bahwa tingkat literasi dan efektivitas terapi sangat bergantung pada ekosistem pendukung di sekitar pasien.
“Upaya eliminasi TB tidak cukup hanya dengan ketersediaan obat. Diperlukan masyarakat yang memiliki literasi kesehatan yang baik, tenaga kesehatan yang aktif mengedukasi, kader yang terlatih mendampingi pasien, serta keluarga yang mampu memberikan dukungan selama proses pengobatan,” terang dr. Fidya.



