REDAKSI8.COM – Pernahkah kita semua mendengar sebuah profesi, yang sangat mulia namun penghargaan secara materi terbilang belum sesuai, bahkan bisa dikatakan miskin apresiasi. Inilah Marbot atau Kaum Masjid.
Bagi yang sering melaksanakan ibadah sholat ke masjid, tentunya kita semua mengetahui bahwa kaum adalah profesi yang sangat familiar, namun bagi yang jarang menginjakan kaki ke masjid, profesi ini terdengar sangat “janggal”.

Profesi Marbot atau Kaum, merupakan orang yang melakukan pekerjaan seperti membersihkan, merawat dan mengelola mesjid. Kemudian, dia juga bertanggung jawab atas segala ritual ibadah di masjid seperti, adzan lima waktu, menjadi imam cadangan dan khatib cadangan.
Itulah yang dirasakan kaum mesjid Al-Ihsan bernama Musa. Tinggal di Desa Babirik, Kecamatan Beruntung Baru Kabupaten Banjar.
Mari kita tengok tulisan selanjutnya, terkait keluh kesah seorang kaum masjid yang berhasil di korak-korek Reporter ini.
Setiap hari Musa selalu beranjak bangun dari tempat tidurnya yang sangat sederhana lebih awal dari orang lain. berteriak mengumandangkan adzan subuh tak henti dia perbuat.
Setelah itu, ia juga merapikan segala macam perangkat salat dan membersihkan tempat suci milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dibalik semuanya, tidak pernah ada sedikitpun keluh kesah yang terucap dari bibir yang menyimpan sejuta rahasia, akan perasaan duka yang terpendam selama ini.
Ketika ditemui Reporter ini, pria satu anak itu mengaku, baginya profesi ini merupakan amanah dari masyarakat setempat. Sebelumnya, dia bekerja sebagai buruh tani di Desa Babirik.
“Mau tidak mau ya saya terima,” ujarnya dengan santun.
Dia bercerita, profesi yang dia kerjakan itu merupakan sebuah anugrah dan hal yang harus disyukuri, karena tidak semua orang mau melakoni profesi tersebut.
Terlebih lagi sambungnnya, honor yang dia terima selama ini bukan dibayar dengan uang, melainkan dengan beras hasil panen milik warga di desanya.
“Alhamdulillah ulun digajih seratus belek beras setahun,” Ungkap Musa.

Lebih jauh kata Musa, dirinya sangat bersyukur atas apresiasi warga setempat kepada dia dan keluarganya. Walaupun jika beras yang diperolehnya diuangkan, dalam satu bulan Musa hanya mengantongi uang senilai Rp. 1 juta 600 ribu, masih dibawah UMR.
Akan tetapi terang Musa, dia tidak akan menjual beras pemberian tersebut, lantaran tambahya kalaupun dijual, pada akhirnya pasti untuk keperluan makannya sehari-hari.
“Berapun uangnya, pasti tetap untuk mengisi perut,” Imbuhnya.
Sedikitpun menurut Musa, Tak pernnah tergesit untuk menambah penghasilan maupun harta benda rumahnya. Dia dan istrinya sepakat untuk hidup sesederhana mungkin dan terus menyerukan ajakan beribadah kepada Masyarakat di tempatnya.
“Yang penting warga di desa saya selalu mengutamakan salat lima waktu,” Tegas Musa.

Menariknya, ditengah wawancara tepatnya pukul 11.00 wita, Musa berdiri menuju bedug dan memukulnya sebanyak 11 kali. Hal itu dilakukan untuk mengingatkan para petani tengah berada di sawah untuk sesegeranya mengakhiri pekerjaan dan menuju masjid.
“Memang sengaja, makanya tadi saya memukulnya sebanyak 11 kali, gunanya agar para petani yang masih ada di sawah untuk secepatnya berhenti melakukan aktifitas. Kan waktu zuhur tinggal 1 jam 15 menit lagi, agar mereka bisa menyempatkan diri untuk membersihkan diri,” jelasnya.



