REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Menjelang Hari Raya Iduladha, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru memastikan ketersediaan hewan kurban dalam kondisi mencukupi.
Bahkan, DKP3 Banjarbaru mencatat stok sapi dan kambing jauh di atas kebutuhan masyarakat di Tahun 2026 ini.

Baik itu untuk kebutuhan ibadah kurban maupun konsumsi masyarakat secara umum.
“Populasi hewan ternak, khususnya sapi dan kambing yang identik dengan kurban cukup tinggi,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Peternakan DKP3 Banjarbaru, Ernita Mahyuhana, Senin (20/4/26).
Berdasarkan data Tahun 2026, total ketersediaan hewan kurban mencapai 4.200 ekor, terdiri dari 2.400 sapi dan 1.800 kambing.
Sementara kebutuhan masyarakat diperkirakan hanya sebanyak 1.300 ekor sapi dan 650 ekor kambing.
“Sedangkan kebutuhan hewan kurban di Kota Banjarbaru diperkirakan untuk sapi sebanyak 1.300 ekor dan kambing 650 ekor,” sebutnya.
Ernita menjelaskan, pasokan hewan ternak tersebut berasal dari peternak lokal dan pedagang besar hingga petani ternak skala kecil di Kota Banjarbaru yang juga turut menyuplai kebutuhan kurban.
Adapun harga kambing dijual berkisar Rp3 juta hingga Rp6 juta per ekor, sedangkan sapi Bali jantan di angka Rp15 juta hingga Rp26 juta, dan sapi Limousin Rp30 juta sampai Rp80 juta per ekor.
Namun, untuk memastikan kelayakan hewan kurban, DKP3 Banjarbaru akan melakukan pendataan serta pemeriksaan kesehatan hewan, termasuk di titik pemotongan hewan kurban seperti Masjid.
“Kami juga melakukan pendataan hewan kurban di masjid-masjid yang memotong hewan kurban di wilayah Kota Banjarbaru,” ujarnya.
Demikian, ia menegaskan, hewan kurban harus memenuhi syarat usia dan kesehatan, serta bebas dari penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Hewan ternak tidak mengeluarkan air liur atau lendir berlebihan, penting agar hewan ternak tidak memilki cacat, seperti buta, pincang, patah tanduk, putus ekor atau mengalami kerusakan daun telinga kecuali yang disebabkan untuk pemberian identitas,” jelasnya.
Pengawasan juga akan dilakukan saat hari pemotongan hewan kurban guna memastikan daging yang dihasilkan layak untuk konsumsi masyarakat.
“Kita akan amati, apakah ditemukan organ dan ternak atau cacing hati atau daging yang tidak layak konsumsi,” pungkasnya.



