REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Keluhan sopir truk terkait distribusi solar subsidi di Kalimantan Selatan (Kalsel) masih belum mereda.
Sejumlah sopir truk mengaku masih harus mengeluarkan uang ratusan ribu agar bisa masuk antrean pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Salah satu pengakuan itu disampaikan sopir truk, Ahmad Mujahid, saat mengantre solar di salah satu SPBU AKR Jalan Trikora, Banjarbaru, Kamis (14/5/26) siang.
“Wahini ngalih banar kalau kaya kami yang umum-umum nih. Biasanya sebelum ada demo disini jam 2 bisa kada dapat minyak jam 2 malam, bekartu sudah padahal,” ujarnya saat diwawancarai.
Ia mengaku, praktik pungutan dari preman untuk masuk antrean pengisian BBM masih terjadi sehingga sopir terpaksa harus membayar agar bisa mendapatkan solar subsidi.
“Tadi dari gunung kan langsung masuk kesini, tapi masih dipintai parkiran Rp220 ribu,” katanya.
“Kalau kada memberi kada kawa masuk kami. di sini kan banyak yang ada nomor masuk-masuk, kayaknya ada ampun-ampunnya sudah masuk-masuk ke sana,” sambungnya.
Ahmad Mujahid menyebut, praktik tersebut sudah berlangsung sejak lama dan menjadi beban tambahan bagi sopir angkutan.
Bahkan, nominal pungutan disebut pernah lebih tinggi dibanding sekarang.
“Kami merasakannya lawas banar sudah bertahun-tahun sebenarnya. Dulu sampai lebih pada ini bayarnya. Ini tadi kurang Rp220 ribu, biasanya Rp250 – Rp300 ribu, mau kada mau kami bayar daripada kada minyak,” jelasnya.
Sementara itu, Pengawas Lapangan SPBU 64.706.07 Jalan Ahmad Yani, Landasan Ulin Tengah, Banjarbaru, Alam menegaskan, pengisian solar di SPBU dilakukan sesuai aturan barcode dari Pertamina.
“Sesuai dengan barcode dari sopir yang dibawanya sama dengan barcode di mobilnya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sistem barcode sudah diterapkan selama empat tahun dan para sopir dinilai sudah memahami mekanismenya.
Demikian, pengisian solar disesuaikan dengan jenis kendaraan dan kuota barcode masing-masing.
“Sudah 4 tahun barcode ini dijalankan jadi sudah tahu aja sopir. Truknya ada roda 6, dan roda 8. Untuk solar disuplai dari Pertamina ke SPBU ini, dan dalam sebulan ada 4 kali libur,” tuturnya.
Dalam sehari, SPBU tersebut menghabiskan sekitar 8 ribu liter solar subsidi atau setara satu tangki pengisian.
“Sehari habis 8 ribu liter atau 1 tangki,” ucapnya.
Di sisi lain, Alam juga membantah adanya pembatasan pengisian BBM di SPBU 64.706.07 tersebut, sebab volume pengisian sepenuhnya mengikuti kuota barcode kendaraan.
“Jadi bukan dibatasi tapi memang sesuai barcode nya, ada yang 80 liter dan 60 liter rata-rata segitu,” tuntasnya.



