REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Harapan Bambang menyiapkan kebun untuk masa pensiun ikut hangus dilalap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Puluhan pohon rambutan dan batang limau yang ditanam di lahannya Jalan Sempati Ujung, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, kini tinggal menyisakan batang dan ranting yang menghitam.


Guru pengajar tersebut selama ini merawat lahan seluas sekitar 34 meter kali 286 meter untuk persiapan masa tuanya.
Namun, kebakaran yang berulang hampir setiap tahun kembali menghanguskan sebagian besar tanaman di kebunnya.
Di belakang gubuk kayu miliknya, bekas kebakaran masih terlihat jelas, daun-daun tanaman telah habis terbakar, menyisakan ranting meranggas dan batang yang dipenuhi jelaga. Hanya sebagian kecil tanaman di sekitar gubuk yang berhasil selamat.
“Setiap tahun sebenarnya kejadian seperti ini. Tanam rambutan dan limau banyak di belakang, habis terbakar semua. Hanya sedikit di dekat gubuk yang bisa bertahan,” ujar Bambang.
Api awalnya muncul dari lahan semak belukar sekitar 50 meter dari kebunnya, ia Juah sempat mengira kobaran tidak akan mencapai lahannya dan berusaha melakukan pemadaman menggunakan peralatan seadanya.
Namun, angin membuat api cepat menjalar membuat kobaran dari berbagai arah kemudian mengepung area kebun hingga menjangkau bagian bawah pondok miliknya.
“Api itu jauh di ujung sana saat itu, jadi kami mantau tiap hari dwri ujung sana yang pas pertama di belakang hotel tuh. Dampaknya tidak nyangka sampai tiba-tiba gitu melilingi apinya kayak mengamuk di sebelah kiri ulun dan ternyata juga sudah dibawah pondok untung aja ulun melihat kalau tidak habis sudah,” jelasnya.
Setelah kebakaran mereda, Bambang bersama tetangganya masih harus berjaga karena titik-titik panas dan asap yang tersisa dikhawatirkan kembali memicu api di tengah kondisi lahan yang kering.
Meski begitu, ia memanfaatkan air dari parit di sekitar lokasi menggunakan mesin alcon untuk membasahi area yang masih berpotensi terbakar.
Aktivitas itu bahkan dilakukannya sebelum dan sesudah menjalankan pekerjaannya sebagai guru.
“Sekarang kita pakai mengandalkn alcon untuk membasahi, makanya itu tiap hari kesini habis ngajar membasahi, subuh datang kesini juga membasahi. Jadi tidak bisa ditinggalkan masih ada titik-titik api nih,” ungkapnya.
Bambang menilai kebakaran yang terus berulang dipicu banyaknya lahan kosong yang dibiarkan telantar dan dipenuhi oleh semak belukar.
Saat musim kemarau, vegetasi kering membuat api lebih mudah menjalar dan mengancam kebun maupun permukiman di sekitarnya.
Oleh karena itu, ia berharap pemilik lahan lebih peduli dengan kondisi tanah mereka agar tidak menjadi sumber risiko bagi warga sekitar.
“Harapannya, yang punya lahan di sekitar sini jangan membiarkan tanahnya telantar. Baik disewakan atau diolah, yang penting tidak menimbulkan dampak bagi yang tinggal di sini. Setiap tahun saya rawat, tapi setiap tahun juga harus ganti tanaman karena kebakaran,” pungkasnya.



