REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Sekolah Dasar Negara (SDN) 1 Loktabat Utara, Kota Banjarbaru mulai menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Penyesuaian di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Jam masuk siswa diundur menjadi pukul 09.00 Wita, sementara aktivitas di luar ruangan untuk sementara ditiadakan.


Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah mengurangi paparan asap, terutama pada pagi hari.
Sekolah memangkas durasi jam pelajaran agar kegiatan belajar tetap selesai sesuai jadwal pulang.
“Hari ini kami resmi memulai Pembelajaran Tatap Muka dengan penyesuaian jam masuk. Yang paling kami tekankan ke seluruh orang tua, siswa, dan pegawai adalah tetap memberlakukan protokol kesehatan secara ketat. Semua murid dan guru kita minta wajib memakai masker sejak dari rumah,” ujar Kepala SDN 1 Loktabat Utara, Muhammad Muhransyah, Kamis (3/9/26).
Selain menggeser jam masuk, SDN 1 Loktabat Utara mengurangi durasi satu jam pelajaran dari 35 menit menjadi 30 menit.
Langkah itu dilakukan agar perubahan waktu masuk tidak membuat jam pulang siswa menjadi lebih sore.
Muhransyah menjelaskan, penerapan PTM Penyesuaian tetap mengacu pada ketentuan Pemerintah Pusat dan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru dengan kondisi kualitas udara menjadi pertimbangan utama.
“Pertimbangannya kami tetap berpedoman pada Surat Edaran dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan diperkuat oleh kebijakan Pemerintah Kota Banjarbaru bahwa kualitas udara menjadi faktor prioritas pertimbangan pelaksanaan pembelajaran,” jelasnya.
Keputusan itu juga diambil setelah sekolah melakukan survei kepada orang tua siswa. Dari sekitar 500 responden, hampir 80 persen memilih PTM Penyesuaian dibandingkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara penuh.
Hasil survei tersebut kemudian dibahas bersama Komite Sekolah sebelum kebijakan diajukan ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarbaru.
Karena menurutnya, kondisi kualitas udara di wilayah Loktabat Utara saat ini relatif lebih baik dibanding sejumlah kawasan lain yang terdampak kabut asap lebih pekat.
“Di lingkup wilayah Loktabat Utara, kualitas udaranya relatif lebih baik dibanding wilayah lain yang terdampak kabut asap lebih pekat,” tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi, sekolah menghentikan sementara kegiatan seperti upacara bendera, senam pagi, dan aktivitas lain yang mengharuskan siswa berada di luar ruangan.
Kegiatan belajar pun difokuskan di dalam kelas, sedangkan ekstrakurikuler dilakukan di dalam ruangan, sehingga pihak sekolah melakukan penyesuaian dan hanya menjalankan kegiatan tertentu dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara.
“Kalau ekskul yang berbasis di dalam ruangan, misalnya ada Sain Club, english Club, Habsyi akan dilaksanakan sekitar sore hari yang mana kualitas udaranya di wilayah kami tidak apa-apa Karena itu kami selektif untuk ekskul selama masa PTM penyesuaian,” tuntasnya.
Penerapan PTM Penyesuaian akan terus dievaluasi mengikuti perkembangan kualitas udara.
Sekolah memastikan kebijakan pembelajaran dapat kembali disesuaikan apabila kondisi kabut asap di Kota Banjarbaru berubah.



