REDAKSI8.COM, BANJAR – Perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian. Curah hujan yang tidak menentu, musim kemarau yang lebih panjang, hingga potensi banjir dan serangan organisme pengganggu tanaman dapat berdampak langsung terhadap hasil panen petani.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar melalui Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Bencana Pertanian menggelar kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Warsita, perwakilan Kejaksaan Negeri, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalimantan Selatan, Koordinator Penyuluh Pertanian, serta para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Sungai Tabuk.
Pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim merupakan salah satu langkah strategis Pemerintah Kabupaten Banjar dalam memperkuat kemampuan petani menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Program ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga pembelajaran langsung di lapangan sehingga petani dapat memahami kondisi cuaca dan iklim yang berpengaruh terhadap usaha tani mereka.
Melalui SLI, para petani dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan terkait pemanfaatan informasi iklim untuk mendukung kegiatan pertanian. Materi yang diberikan meliputi cara membaca informasi cuaca, memahami pola musim, menentukan waktu tanam yang tepat, mengantisipasi risiko kekeringan maupun banjir, hingga memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, mengatakan bahwa perubahan iklim saat ini tidak bisa dihindari, namun dampaknya dapat diminimalkan apabila petani memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengelola usaha taninya.
Menurutnya, Sekolah Lapang Iklim menjadi sarana penting untuk meningkatkan kapasitas petani agar mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi dan data yang akurat, bukan hanya berdasarkan kebiasaan atau pengalaman masa lalu.
“Sekolah Lapang Iklim telah memberikan dampak yang sangat positif bagi petani di Kabupaten Banjar. Dengan memahami kondisi iklim, petani dapat menentukan waktu tanam yang tepat, memilih varietas yang sesuai, serta menerapkan teknik budidaya yang lebih efektif. Hasilnya, produktivitas pertanian meningkat dan petani menjadi lebih mandiri,” ujar Warsita.
Ia menjelaskan, informasi iklim kini menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha pertanian. Kesalahan menentukan jadwal tanam akibat perubahan pola musim dapat menyebabkan gagal panen atau menurunnya hasil produksi. Karena itu, kemampuan membaca dan memanfaatkan informasi iklim harus menjadi bagian dari keterampilan dasar petani modern.
Selain meningkatkan produktivitas, program ini juga bertujuan memperkuat ketahanan pangan daerah. Dengan kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap perubahan cuaca, petani diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi pangan meskipun menghadapi berbagai tantangan iklim..
Keterlibatan BMKG dalam kegiatan tersebut juga memberikan nilai tambah karena petani memperoleh informasi langsung mengenai prakiraan cuaca dan kondisi iklim terkini. Informasi tersebut dapat menjadi dasar dalam menyusun rencana tanam yang lebih efektif dan efisien.
Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi kegiatan. Mereka tidak hanya mendapatkan materi dari narasumber, tetapi juga berdiskusi mengenai berbagai permasalahan yang sering dihadapi di lapangan, mulai dari keterlambatan musim hujan, genangan air di lahan pertanian, hingga serangan hama yang kerap meningkat akibat perubahan cuaca ekstrem.
Distan Kabupaten Banjar berharap kegiatan Sekolah Lapang Iklim dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kelompok tani di berbagai kecamatan. Dengan semakin banyak petani yang memahami informasi iklim, sektor pertanian di Kabupaten Banjar diharapkan menjadi lebih tangguh, adaptif, dan mampu menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan perubahan iklim yang terus berkembang.
Program ini sekaligus menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Banjar dalam mendorong terwujudnya pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian yang siap menghadapi perubahan zaman dan dinamika iklim global.



