REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Selatan (Kalsel) musnahkan ratusan kilogram barang bukti (barbuk) narkotika jenis sabu-sabu pada Kamis (11/9/25).
Adapun rinciannya yakni 101.662,8 gram sabu, 11.973.5 butir ekstasi, dan 134.07 gram serbuk ekstasi.

Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan menyebutkan, barang bukti itu berasal dari 45 laporan.
“Kita memusnahkan sabu sebanyak 101,6 kilogram,” ucapnya.
Ia menyampaikan, semua barang bukti diringkus dari jaringan antar provinsi, yang terafiliasi dengan sindikat besar yakni Freddy Pratama.
Pun, kasus ini terbongkar dari berbagai wilayah seperti di Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Batola, Tapin, dan Hulu Sungai Tengah.
Dari operasi itu, kepolisian berhasil mengamankan 60 tersangka, terdiri dari 59 pria dan satu diantaranya adalah perempuan.
“Ini jaringan antar provinsi, ada dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Medan, Jakarta, dan Semarang,” sebutnya.
Meski begitu, Kapolda mengakui sebagian besar tersangka justru berasal dari luar daerah. Dimana fakta itu menunjukan, Kalimantan Selatan menjadi salah satu sasaran peredaran lintas provinsi.
“Banyak yang ditangkap dari Jawa Barat, Jambi, Jakarta, Jawa Timur, dan Makassar,” katanya.
Lebih jauh, Ia menegaskan, pemusnahan ini bukan sekadar menghilangkan barang bukti, tetapi juga untuk menyelamatkan masyarakat dari ancaman serius.
“Kita bisa menyelamatkan sekitar 520.332 ribu orang,” paparnya.
Tak hanya sampai disitu, dari seluruh barang bukti yang berhasil digagalkam memiliki nilai ekonomi mencapai Rp110 miliar.
“Jika harga sabu di pasaran mencapai Rp1 juta per gram, sementara ekstasi dihargai Rp700 ribu per butir,” tuturnya.
Namun, apabila ratusan ribu orang tersebut sudah terpapar narkoba, maka biaya rehabilitasi akan sangat besar, hingga mencapai Rp 2,6 triliun.
Perhitungan itu, katanya, berdasarkan asumsi Rp5 juta per orang per bulan.
“Mari kita bulatkan tekad, menjauhi narkoba, dan menyelamatkan generasi muda,” tegasnya.
Menurutnya, menuju Indonesia Emas 2045 hanya bisa terwujud dengan generasi muda yang jauh dari narkoba.
“Guna mewujudkan generasi muda yang sehat, cerdas, dan bebas dari narkoba,” tuntasnya.



