REDAKSI8.COM – Pada anggaran perubahan nanti Walikota Banjarbaru, Aditya Mufti Ariffin mebeberkan akan mengusulkan pembangunan ratus sumur resapan di sejumlah titik di Kota Banjarbaru.
Target pembangunan sumur Ia menyebutkan berkisar antara 200 sampai 300 sumur resapan yang utamanya akan di bangun di titik-titik yang dianggap prioritas.
Itu akan dicanangkan guna mengantisipasi terjadi banjir atau genangan air di sejumlah lokasi di Banjarbaru.
“Target kita itu sekitar 200 sampai 300 sumur resapan, terutama pada titik-titik yang selama ini diprioritaskan yang selama ini menjadi genangan air,” ungkap Walikota Banjarbaru Aditya ketika Rapat Koordinasi (Rakor) Camat dan Lurah se–Kota Banjarbaru, di Aula Kelurahan Bangkal, pada (22/8) Senin pagi.
Mendengar hal itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Banjarbaru, Emi Lasari berpendapat, pembangunan sumur resapan guna mencegah terjadinya banjir diawalnya mesti memerlukan kajian teknis terlebih dahulu.
Karena menurutnya, sejauh ini belum ada satu pun formula yang signifikan menekan terjadinya banjir di Kota berjuluk Kota Idaman.
Tidak cukup sambungnya hanya mengandalkan sumur resapan saja atau bahkan menambah embung, tapi juga mesti memikirkan persoalan aliran sungai di Banjarbaru supaya kian tahun tidak semakin sempit.
“Seharusnya dinas teknis itu menghayati untuk melakukan kajian teknis bagaimana sih cara dan upaya melakukan penanggulangan banjir,” katanya melalui pesan suara kepada pewarta ini, Senin (22/8) malam.
Ia menyarankan hal pertama yang mesti dilakukan ialah memperbaiki aliran-aliran sungai yang ada. Jangan sampai aliran sungai-sungai semakin menyempit. Kemudian persoalan pengelolaan sampah rumah tangga baginya juga tidak kalah penting.
“Memang harus dilakukan kajian teknis terkait mengenai ini sehingga kemudian itu bisa menjadi solusi. Tidak hanya kemudian kita menemukan cara-cara pengin membangun ini pengen membangun ini tapi tidak terukur tidak teruji secara teknis,” jelasnya.
“Itu menjadi solusi atau tidak karena yang namanya sumber resapan itu kalau tidak dilakukan kajian teknis kita tidak tahu apakah kemudian itu efektif di Kota Banjarbaru atau tidak. Bisa saja di kota lain bisa disini belum tentu,” tambahnya menerangkan.
Lebih jauh kepada Redaksi8.com, melihat persoalan-persoalan tersebut lebih elok yang perlu diperhatikan terkait pada bagaimana pola penanganannya yang mesti ada kajian ilmiah. Tidak serta merta mengadopsi sistem pengairan daerah lain.
Sehingga jelas terukur dan dapat dipastikan apakah semua langkah-langkah yang dilakukan dengan membangun embung maupun sumur resapan hingga perbaikan drainase optimal atau tidak.
“Upaya untuk menyelesaikan persoalan banjir itu kan harus jelas sumbernya secara keilmuan, jadi tidak hanya berusaha berdasarkan apa mencontoh daerah lain atau seperti apa. Nah ini yang harus diperjelas oleh pemerintah kota,” tandasnya.



