REDAKSI8.COM – Menyikapi bencana banjir yang kian tahun terjadi, Pemerintah Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel) rencananya akan kembali membangun embung baru sebagai upaya mitigasi bencana banjir.
Lokasinya nanti berada di Eks tambang Intan PT Galuh Cempaka, Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru.
Diperkirakan luas area bekas tambang disana mencapai 300 hektar.
Ini diungkapkan Walikota Banjarbaru, Muhammad Aditya Mufti Arifin saat Silaturahmi bersama Forum RT/RW, di Aula Kantor Kelurahan Landasan Ulin Utara (Laura), Jalan Sukamara RT 002/RW 002, Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru, Jumat (2/7).
Katanya, Pemko Banjarbaru akan membangun embung lagi sebagai upaya mitigasi banjir.
Melihat, beberapa tahun terakhir luapan air menggeruak masuk ke dalam kawasan pemukimam padat penduduk, jalan komplek perumahan dan jalan raya hingga menggenang beberapa waktu, namun tidak berlangsung lama.
Diduga, genangan dari luapan air terjadi lantaran pengelolaan drainase di Kota ini belum begitu baik. Ditambah curah hujan yang kerap terjadi pada setiap awal tahun kian bertambah tinggi.
Sedangkan durasi hujan kala itu memakan waktu berhari-hari lamanya. Akhirnya, air yang biasa melewati celah-celah kecil merembes ke atas jalan dan masuk ke dalam rumah warga.
“Embung yang akan kita bangun berada di kawasan bekas tambang PT Galuh Cempaka,” tuturnya.
“Semoga dengan dibangunnya embung ini diharapakan nantinya bisa mengatasi banjir dan tidak ada lagi banjir di Banjarbaru,” sambungnya.
Diketahui, Pemko Banjarbaru pada akhir tahun 2020 melalui Bidang Sumber Daya Air, Dinas PUPR telah selesai menormalisasi embung di Kecamatan Cempaka.
Luas embung disana berukuran 2,9 hektare dengan tampung air 91.200 meter kubik. Dana pengerjaan normalisasi embung tersebut senilai Rp 424 juta.
Namun, karena tingginya curah hujan dan durasi waktu hujan cenderung lebih lama di awal tahun 2021 kemarin dibandingkan tahun sebelumnya, menyebabkan fungsi embung ditengarai menjadi over kapasitas.
Disertai banyaknya kiriman air dari berbagai bukit disekitarnya saat hujan berlangsung kala itu, sehingga embung cempaka yang diharapkan mampu menampung curah hujan faktanya belum optimal.



