REDAKSI8.COM, KALSEL — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah lahan gambut, menyimpan ancaman kesehatan yang jauh lebih berbahaya dibandingkan kebakaran hutan biasa.

Asap yang dihasilkan dari karhutla tidak hanya sekadar mengganggu pernapasan, tetapi juga mengandung partikel halus beracun yang dapat masuk ke dalam tubuh dan memicu berbagai gangguan kesehatan serius.

Kebakaran pada lahan gambut memiliki karakteristik unik karena api membakar dari bawah tanah dan dapat terus menyala selama berminggu-minggu tanpa terlihat adanya nyala api di permukaan.

Skala sebaran asapnya pun telah menembus batas negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, dengan radius pencemaran yang dapat mencapai lebih dari 10 kilometer dari titik api.

Dilansir dari sejumlah sumber bidang kesehatan, asap dari kebakaran gambut didominasi oleh partikel PM2.5, yaitu partikel halus berukuran sekitar 2,5 mikrometer atau 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia.

Ukuran yang sangat kecil ini membuat partikel tersebut mampu menembus sistem pertahanan alami tubuh seperti hidung dan tenggorokan, untuk kemudian langsung menyusup ke alveolus paru-paru hingga masuk ke dalam aliran darah.

Paparan langsung ini dapat menimbulkan gejala seketika berupa dada sesak, batuk yang tidak kunjung berhenti, mata perih, inflamasi, stres oksidatif, serta iritasi pada saluran napas.

Anak-anak dinilai sebagai kelompok yang paling rentan dan terkena dampak paling fatal dari bencana ini.

Frekuensi napas anak-anak jauh lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sehingga jika dihitung per kilogram berat badan, dosis polusi yang masuk ke dalam tubuh mereka menjadi jauh lebih besar.

Dampak paparan PM2.5 pada anak-anak mencakup berbagai gangguan kesehatan berat, mulai dari gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan asma, hingga gangguan kardiovaskular seperti risiko penyakit jantung serta stroke.

Selain itu, partikel berbahaya ini mampu memicu gangguan neurologis berupa penurunan fungsi otak dan peningkatan risiko demensia, penurunan daya tahan tubuh, serta ancaman serius bagi ibu hamil.

Mengingat besarnya ancaman tersebut, fokus utama penanganan seharusnya tidak hanya berpusat pada kapan asap akan hilang, melainkan kesadaran mengenai seberapa banyak polutan berbahaya yang telah terhirup dan masuk ke dalam paru-paru.

Masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu hamil, diimbau untuk tidak dibiarkan terus-menerus menghirup udara yang beracun.