REDAKSI8.COM, KALSEL – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pola musim hujan 2025/2026 di Kalimantan Selatan (Kalsel) berlangsung tidak merata antarwilayah.
Perbedaan terlihat mulai dari waktu awal musim hujan, periode puncak curah hujan, hingga perkiraan berakhirnya musim hujan.

Berdasarkan prakiraan musim BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, dinamika musim hujan di wilayah Kalsel terjadi secara bertahap.
Kondisi itu menyebabkan sebagian wilayah telah melewati puncak hujan, sementara wilayah lainnya masih berada pada fase curah hujan tinggi hingga Januari 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kalsel, Klaus Johannes Apoh Damanik menyampaikan, wilayah Kalsel mulai memasuki musim hujan sejak September 2025 secara berangsur-angsur.
Pola bertahap tersebut juga terjadi pada fase puncak musim hujan.
“Puncak musim hujan bertahap ya. Pada bulan November sekitar 50 persen wilayah Kalsel sudah memasuki puncak hujan, kemudian bulan Desember bertambah sekitar 17 persen wilayah,” ujarnya beberapa waktu lalu.
BMKG mencatat, memasuki Januari 2026 sekitar 24,7 persen wilayah Kalsel masih berada pada periode puncak musim hujan.
Kondisi tersebut dinilai cukup krusial karena berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta genangan air di kawasan permukiman dan jalur transportasi.
“Jadi wilayah yang masih mengalami puncak hujan di bulan Januari sebagian kecil Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, sebagian besar wilayah Pulau dan daratan Kotabaru, serta sebagian besar Tanah Bumbu,” sebutnya.
Menurut BMKG, Kabupaten Banjar menjadi salah satu daerah yang mengalami puncak musim hujan paling akhir dibanding wilayah lain di Kalsel.
Hal itu membuat daerah tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan lebih lama terhadap potensi dampak cuaca ekstrem.
Sementara pada Februari 2026, BMKG memprakirakan puncak musim hujan di Kalsel mulai menurun secara bertahap.
“Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah, sehingga potensi bencana belum sepenuhnya berakhir,” tuturnya.
Oleh karena itu, ia juga mengimbau, Pemerintah Daerah (Pemda), instansi terkait, serta masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan hingga musim hujan benar-benar berakhir.
Langkah antisipatif diperlukan, terutama di wilayah rawan banjir dan longsor, dengan memantau kondisi lingkungan serta informasi cuaca terkini.
“Curah hujannya memang sangat tinggi di bulan-bulan puncak musim hujan itu,” tutupnya.



