REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Aktivitas penjualan kurma di Pasar Bauntung Kota Banjarbaru mulai menggeliat sejak menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Tren peningkatan ternyata sudah menjadi pola tahunan, seiring tingginya kebutuhan masyarakat terhadap kurma sebagai hidangan berbuka puasa.

Salah satu pedagang kurma di Pasar Bauntung Banjarbaru Dillah mengungkapkan, setiap memasuki periode jelang Ramadan, permintaan selalu mengalami lonjakan dibanding hari biasanya.
“Setiap tahun kalau sudah menjelang Ramadan pasti ada peningkatan penjualan. Mudah-mudahan tahun ini kayak tahun kemarin rame terus,” ujarnya, Kamis (19/2/26).
Menurutnya, lonjakan pembelian tidak terjadi merata setiap hari, sebab pergerakan penjualan sangat dipengaruhi moment, terutama akhir pekan dan hari libur yang cenderung lebih ramai oleh pengunjung.
“Perhari yang terjual berapa kilonya tergantung nggak rata ya, kalau weekend lebih banyak. Kalau kita pukul rata mungkin itu sampai 80 sampai 100 kilo, weekend biasanya lebih rame,” katanya.
Dillah menyampaikan, bahwa dirinya hanya menjual kurma saat momentum Ramadan saja, diluar bulan puasa tidak.
Kendati demikian, untuk sekarang minat pembeli sudah mulai terlihat meski belum memasuki puncak keramaian.
“Kalau hari biasa nggak Ramadan aku nggak jual kurma. Jual kurmanya cuma buat ramadan aja. Tapi saat ini pembelinya udah lumayan banyak,” tuturnya.
Meski begitu, menurutnya suasana pasar belum sepenuhnya ramai seperti biasa, karena peningkatan signifikan baru terasa dalam beberapa hari terakhir.
“Kalau seminggu sebelumnya belum terlalu rame,” ucapnya.
Dari sisi jenis, pilihan kurma yang tersedia di lapaknya cukup beragam, mulai dari teksturnya yang lembut hingga agak keras, basah maupun kering.
Namun, secara umum tingkat penjualan antarjenis kurma relatif seimbang, tergantung dari selera konsumen masing-masing.
“Tergantung selera masing-masing ya. Ada yang lembut, agak keras, ada yang basah, dan kering. Tapi yang dominan adalah kurma Mesir karena lebih murah harganya, sekilonya cuma Rp30 ribu,” jelasnya.
Sementara itu, kurma premium yang paling mahal adalah jenis Ajwa, satu toplesnya mencapai Rp60 ribu dengan berat sekitar setengah kilogram.
Sedangkan kurma Barari, harganya cenderung fluktuatif mengikuti pasokan dari distributor atau agen, karena menjelang Ramadan tren kenaikan harga hampir selalu terjadi.
Dengan tren yang mulai bergerak naik, ia berharap, lonjakan pembelian akan terus berlanjut hingga memasuki awal Ramadan, sehingga penjualan tahun ini bisa stabil bahkan melampaui capaian sebelumnya.
“Kurma Barari tergantung naik-naik turun. Sekarang lagi naik-naiknya Rp45 ribu sekitar 6 ons atau 600 gram kurang lebihnya lah segitu. Biasanya kalau sudah puasa di agen pasti harganya naik,” tutupnya.



