REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hebat kembali melanda wilayah perbatasan antara Kabupaten Tanah Laut dan Kota Banjarbaru pada Kamis sore hingga malam hari (5/8/2026).
Kobaran api dilaporkan pertama kali muncul di wilayah Desa Pandahan, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut.

Tiupan angin yang berembus kencang dari arah Tanah Laut menuju Banjarbaru membuat titik api menyebar cepat dan meluas ke area sekitar pemukiman warga setempat.
Pergerakan api dari Desa Pandahan tersebut dengan cepat menjalar menuju wilayah Landasan Ulin Selatan, khususnya di area Pengayuan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru.
Situasi di lapangan sempat berubah menjadi genting menjelang malam hari ketika kobaran api mulai mendekati area pemukiman warga RT 01 Pengayuan.
Anggota Babin Pengayuan, Serma Nanang, yang bersiaga di lokasi kejadian menyampaikan, langkah koordinasi intensif sontak dikoordinasikan antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru dan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan.
“Titik awal api memang dari arah Pandahan, lalu terbawa angin hingga masuk ke wilayah Pengayuan. Kami bersiaga bersama tim gabungan untuk memastikan api tidak melompat ke pemukiman,” ujarnya.
Upaya penanggulangan dilakukan secara masif oleh tim gabungan yang melibatkan unsur BPBD, TNI, Masyarakat Peduli Bencana (MPB), serta puluhan relawan pemadam kebakaran swasta se-Kota Banjarbaru.
Salah satu relawan dari Barres Posko 1, Rudi, menjelaskan, pergerakan armada dan personel ke titik lokasi kebakaran sudah dimulai sejak sore hari.
“Api mulai terlihat membesar sejak pukul 16.00 WITA, namun sekitar pukul 21.00 WITA kondisi semakin mengkhawatirkan karena api sudah sangat dekat dengan rumah warga. Kami menurunkan sekitar 18 personel, dibantu juga oleh rekan-rekan relawan dari Gambut,” jelas Rudi di tengah upaya pemadaman malam hari.
Perjuangan tim gabungan di lapangan harus menghadapi kendala yang cukup serius.
Minimnya ketersediaan sumber air di area lahan kering yang terbakar serta keterbatasan panjang selang pemadam untuk menjangkau titik api yang jauh menjadi hambatan utama dalam melokalisasi pergerakan api.
Dampak kebakaran lahan tersebut tidak hanya mengancam area pemukiman, tetapi juga mengganggu mobilitas lalu lintas.
Kabut asap pekat membumbung tinggi menyelimuti jalan raya utama di perbatasan Tanah Laut dan Banjarbaru, terutama di sekitar ikon gerbang selamat datang Kabupaten Tanah Laut.
Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang para pengemudi berkurang drastis sehingga membahayakan pengguna jalan yang melintas.



