REDAKSI8.COM, KALSEL – Sejak awal musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mencatat sekitar 25 hektare lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski jumlah kejadian masih relatif terkendali, Pemerintah tetap meningkatkan kesiapsiagaan karena musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih panjang.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarbaru, Harun Arrasyid menyebutkan, luasan lahan terbakar terbesar berada di wilayah Kecamatan Cempaka.
“Dari data yang dihimpun oleh BBBD Kota Banjarbaru tentang Karhutla, kurang lebih 25 hektare lahan kita yang sudah terbakar, dengan luasan paling luas di daerah Cempaka,” ujarnya Senin (6/7/26).
Menurutnya, tren karhutla di Banjarbaru secara umum tidak jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, kondisi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang membuat potensi kebakaran tetap harus diwaspadai sejak dini agar tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
“Mungkin trennya setiap tahun tidak terlalu banyak berubah, namun keadaan tahun ini diperparah dengan adanya kemarau yang diperkirakan akan lumayan panjang,” katanya.
Ia menjelaskan, hingga saat ini jumlah kejadian karhutla memang belum mengalami peningkatan yang signifikan meski cuaca mulai didominasi suhu panas.
Karena itu, BPBD memilih mengedepankan langkah antisipasi melalui penguatan kesiapsiagaan personel dan koordinasi lintas instansi sebelum kondisi semakin memburuk.
“Meski cuaca sekarang cukup ekstrem, tapi sampai saat ini memang trennya masih datar, tidak terlalu banyak kejadian-kejadian kebakaran. Namun kami tetap waspada,” ucapnya.
Sebagai bentuk kesiapan menghadapi ancaman karhutla, BPBD Kota Banjarbaru telah meningkatkan piket jaga sekaligus memperkuat koordinasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan.
Langkah tersebut dilakukan agar seluruh sumber daya dapat digerakkan dengan cepat apabila terjadi kebakaran di lapangan.
“Langkah-langkah mitigasi dan pencegahan sudah kami ambil, yaitu meningkatkan piket jaga, juga berkoordinasi dengan BPBD provinsi,” tuturnya.
Sementara untuk penetapan status karhutla di Kota Banjarbaru sendiri katanya masih menunggu hasil pembahasan pada saat rapat bersama Forkopimda sekaligus menyamakan langkah penanganan dengan pemerintah kabupaten dan kota lainnya di Kalimantan Selatan.
“Nanti kita rapat dengan Porkopimda Kota Banjarbaru untuk segera menetapkan status karhutla di Kota Banjarbaru,” imbuhnya.
Di sisi lain, Harun menilai keberhasilan pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada kesiapan pemerintah, tetapi juga memerlukan peran aktif dari masyarakat.
Karena itu, warga kembali diingatkan agar tidak membuka ataupun membersihkan lahan dengan cara dibakar, mengingat kondisi cuaca saat ini yang sulit diprediksi dapat menyebabkan kebakaran cepat meluas hingga mengancam lahan maupun permukiman di sekitarnya.
Seperti angin kencang yang kerap muncul saat musim kemarau membuat arah rambatan api menjadi sulit diperkirakan.
“Jangan membakar lahan apa pun itu alasannya. Karena saat ini kita cuaca juga tidak menentu, bisa panas siang panjang dan tiba-tiba hujan, kemudian bisa disertai angin yang lumayan deras. Angin yang lumayan deras ini yang membuat arah api yang mungkin tidak bisa diprediksi,” tegasnya.
Demikian, pemilik maupun pengelola lahan diimbau untuk memanfaatkan metode pengolahan lahan yang lebih aman dan ramah lingkungan agar risiko kebakaran dapat ditekan selama musim kemarau berlangsung.
“Pembersihan lahan dan pemanfaatan lahan, masih ada cara-cara lain yang lebih bersahabat dengan alam,” pungkasnya.



