REDAKSI8.COM – Menjelang masa berakhirnya Pemberlakuan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Banjarbaru pada tanggal 29 Mei yang tinggal beberapa hari lagi, pemerintah kota masih belum menetapkan apakah PSBB akan berlanjut atau memasuki protokol kesehatan baru yakni New Normal.
Sesuai dengan arahan yang telah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu, bahwa dalam waktu dekat Negara Indonesia akan memasuki tatanan kehidupan baru yang disebut new normal.
Dimana masyarakat harus berdamai dan hidup berdampingan dengan pandemi Corona Virus Disaese (Covid-19).
Walaupun berdampingan, tentu saja masyarakat tetap diwajibkan mengedepankan protokol kesehatan sesuai arahan pemerintah dan gugus tugas.
Bagaimana dengan dunia pendidikan? Apakah dengan new normal siswa-siswa dan mahasiswa yang sudah beberapa bulan belajar di rumah akan kembali ke kelas atau tetap di rumah?
Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, M Aswan, protokol pembelajaran untuk para penuntut akademik di Kota Banjarbaru masih di rumah. Namun saat ini, proses belajar akan kembali berlangsung pada tanggal 2 Juni akan datang, pasca libur selama bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.
“Dari tanggal 2 nanti mereka kembali belajar tapi di rumah,” bebernya kepada Redaksi8.com, Selasa (26/5).
Jika memang PSBB diperpanjang tambahnya, maka pembelajaran di rumah masih tetap berlanjut.
“Kami mengikuti protokol gugus tugas dan pemerintah pusat. Jika seandainya PSBB berakhir dan memasuki New Normal, siswa siswi akan kita sekolahkan lagi di ruang kelas,” ujarnya.
Bagi pria yang akrab disapa Aswan, pemberlakuan New Normal, tentu saja akan sangat berdampak terhadap dunia pendidikan. Dengan demikian, pihaknya tengah mendiskusikan dan menyusun protokol belajar mengajar sebagai strategi persiapan jika pada akhirnya Kota Banjarbaru akan memberlakukan new normal.
“Kita masih menyusun teknis nanti bagaimana para guru dan murid berperilaku selama berada di sekolah. Apakah nanti tempat duduk belajarnya di beri jarak, cuci tangan, sepatu disemprot. Apakah nanti harus menggunakan masker dan masuknya harus menggunakan sistem bergantian, sesuai dengan budaya di daerah kita,” terang Aswan kepada pewarta.
“Yang paling penting jika memang tatanan kehidupan baru itu diberlakukan, kita juga akan mengutamakan protokol kesehatan selama di sekolah, baik guru maupun muridnya,” sambungnya.
Berkaca pada negara besar seperti Itali dan Korea Selatan, katanya negara besar seperti mereka yang secara faktual mengalami penurunan penyebaran covid-19 dan kemudian membuka kembali akses pendidikan secara normal, ternyata masih saja ada beberapa siswanya yang terpapar.
Hal itulah menurutnya yang harus dicermati dan dipelajari lebih mendalam, agar pembukaan akses belajar mengajar kembali ini berjalan efektif dan tetap mampu menekan angka penyebaran covid-19.
“Jika di kabupaten lain masih tinggi angka penyebarannya, bahaya juga kalau kita berani membuka proses belajar di kelas,” takutnya.
Sekarang lebih jauh kepada Redaksi8.com, ia bersama jajarannya lebih fokus mengevaluasi dan menyusun bagaimana penerapan pembelajaran yang lebih afektif selama di rumah.
Karena belakangan, dari hasil evaluasi pihaknya, menggunakan sistem daring ternyata belum begitu ampuh untuk memberikan pemahaman terhadap para siswa.
Tidak semua pelajaran dapat diserap dengan mudah, perlu cara seperti pembelajaran langsung di kelas.
“Kita tahu sendiri seperti apa sulitnya pelajaran matematika. Dia bertanya kepada orang tuanya tapi ada segelintir orang tua yang tidak bisa membantu si anak menjawab tugasnya itu. Sehingga dampaknya bisa menimbulkan stres pada si anak,” jelasnya.
“Oleh karena itu, disamping akademik kami pun saat ini mengarahkan para siswa untuk belajar life skill. Misalnya bagaimana cara membuat layangan, memanah, pertukangan dan pengetahuan dikehidupan sehari-hari,” lanjut Aswan.



