REDAKSI8.COM, BANDAR LAMPUNG – Semangat meraih pendidikan tinggi tidak pernah mengenal batas. Keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi Reni Agustin, seorang hafidzah penyandang disabilitas tunanetra, untuk menggapai cita-citanya. Dengan tekad yang kuat, ia mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung www.radenintan.ac.id, Selasa (9/6/2026).
Kehadiran Reni di ruang ujian bukan sekadar menjadi peserta seleksi mahasiswa baru. Lebih dari itu, ia menjadi simbol bahwa akses pendidikan tinggi harus terbuka bagi siapa pun, tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang. Momentum tersebut sekaligus menegaskan komitmen UIN Raden Intan Lampung sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai inklusivitas dan kesetaraan.

Dalam mengikuti ujian, Reni memperoleh fasilitas pendamping khusus. Setiap soal dibacakan oleh Irawansyah, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) sekaligus staf Pusat Pengembangan Bahasa (Pusba) UIN RIL. Pendampingan itu memungkinkan Reni mengikuti seluruh rangkaian tes dengan nyaman dan setara dengan peserta lainnya.
Wakil Rektor I UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Andi Thahir, M.A., mengatakan penyediaan pendamping bagi peserta difabel merupakan bagian dari tanggung jawab kampus dalam menghadirkan layanan pendidikan yang ramah dan berkeadilan.
Menurutnya, seluruh calon mahasiswa memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan tinggi. Karena itu, UIN RIL terus berupaya memastikan seluruh proses seleksi dapat diikuti secara optimal oleh setiap peserta, termasuk penyandang disabilitas.
Di balik keteguhannya mengikuti ujian, Reni mendapat dukungan penuh dari sang ibu, Sundari, yang setia mendampinginya sejak awal pelaksanaan tes. Dengan penuh haru, Sundari menceritakan bahwa putrinya memiliki semangat belajar yang luar biasa dan tidak pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.
Reni merupakan lulusan SLB A Bina Insani. Selama menempuh pendidikan, ia telah menorehkan berbagai prestasi membanggakan. Di antaranya dua kali meraih Juara I Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat SMPLB/SMALB dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) tingkat Provinsi Lampung.
Tak hanya berprestasi di bidang akademik dan keagamaan, Reni juga telah menghafal Al-Qur’an sebanyak empat juz. Kemampuannya sebagai hafidzah menjadi bukti bahwa keterbatasan penglihatan tidak membatasi tekadnya untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri.
Dalam seleksi UM-PTKIN tahun ini, Reni memilih tiga program studi di UIN Raden Intan Lampung, yakni Ekonomi Syariah, Bimbingan dan Konseling Islam, serta Sejarah Peradaban Islam.
Usai menyelesaikan ujian, Reni mengungkapkan alasan sederhana namun penuh makna mengapa ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Saya ingin kuliah karena semua memiliki hak yang sama. Kesetaraan,” ujarnya.
Lebih jauh, Reni memiliki impian besar untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor. Cita-cita itu lahir dari sosok yang menginspirasinya, yakni Dr. Supron Ridisno, M.Pd., penyandang disabilitas tunanetra pertama yang berhasil meraih gelar doktor di UIN Raden Intan Lampung melalui Program Doktor Pengembangan Masyarakat Islam.
“Ya, semuanya harus dicoba, dengan berusaha,” kata Reni penuh optimisme.
Komitmen UIN Raden Intan Lampung dalam mewujudkan kampus inklusif tidak hanya terlihat pada kehadiran Reni. Sehari sebelumnya, kampus juga memfasilitasi peserta penyandang tuna daksa yang mengikuti UM-PTKIN dengan layanan dan pendampingan khusus.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa UIN Raden Intan Lampung tidak hanya membuka akses pendidikan bagi seluruh kalangan, tetapi juga menghadirkan sistem pelayanan yang memastikan setiap peserta memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih masa depan melalui pendidikan tinggi.
Kisah Reni menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Dengan dukungan keluarga, lingkungan yang inklusif, serta semangat pantang menyerah, mimpi untuk mengenyam pendidikan hingga jenjang tertinggi dapat diwujudkan. Di kampus yang menghargai keberagaman, setiap langkah kecil menuju ruang kuliah adalah bagian dari perjuangan besar menghadirkan pendidikan yang adil bagi semua.



