REDAKSI8.COM – Akibat kelangkaan bahan bakar gas LPG 3 kilogram (Kg) ditambah harganya yang sangat mahal, masyarakat terpaksa beralih memanfaatkan kayu dari pohon mangrove sekitar sebagai bahan bakar masak di dapur.
Sehingga, ekosistem mangrove yang masuk dalam kawasan Konservasi di Desa Tanjung Sungkai, Kecamatan Pulau Laut Tanjung Slayar, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan sekarang mengalami pengurangan.

Diakui oleh masyarakat setempat, Hadriansyah, katanya, kelangkaan bahan bakar gas bersubsidi itu membuat warga desanya terpaksa mengalihfungsikan pohon mangrove di belakang rumahnya sebagai bahan bakar kayu untuk keperluan hidup sehari-hari.
Selain karena kelangkaan ketersediaan gas LPG 3 Kg, harganya pun bagi Hadriansyah sangat mahal dilevel ekonomi masyarakat pelosok pesisir laut.
“Harga sebijinya mulai dari 45 ribu sampai 50 ribu rupiah. Disini harga segitu terlalu mahal. Lagian barangnya juga sangat langka,” ungkapnya kepada Redaksi8.com.
Tidak dipungkiri, dulunya memanfaatkan kayu bakau sebagai bahan bakar masak memang kerap digandrungi masyarakat pesisir. Setelah melawati masa kemasa, tradisi itu mulai terhapus perlahan dengan datangnya bahan bakar gas bersubsidi oleh pemerintah.
“Ini hanya karena kelangkaan dan harga bahan bakar gasnya yang terlalu mahal. Bagi kami disini, kalau semuanya normal seperti sebelumnya, kami masyarakat tidak akan manfaatkan pohon mangrove lagi untuk bahan bakar masak,” terang Sekretaris Badan Perwakilan Desa (BPD) Tanjung Sungkai.
Ia menginginkan, masyarakat ditempatnya juga perlu wawasan dan bimbingan mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove.
Meskipun setelah di tebang, masa tumbuh pohon yang hidup diperairan payau itu cenderung cepat, tetap saja menurutnya harus ada edukasi dan pemahaman kepada warga desanya.
“Kemarin kita kedatangan Mahasiswa Pecinta Alam Piranha dari Kampus Unlam. Mereka disini memberikan pelatihan bikin persemaian bibit mangrove menggunakan polybag dari sampah plastik kepada pemuda dan siswa siswi sekolah kita,” beber Hadri panggilan akrabnya.
Lebih jauh kepada Redaksi8.com, kedatangan Mapala Piranha menjadi atensi warga desanya. Sebab, belum pernah ada mahasiswa atau instansi yang mencetuskan sampah plastik bisa dimanfaatkan jadi polybag.
“Semoga kedatangan kawan-kawan Piranha ke desa kami dapat memberikan dampak baik terhadap pemuda generasi selanjutnya untuk desa kami. Karena masyarakat kita disini krisis kesadaran dalam pelestarian lingkungan,” tandasnya.



