REDAKSI8.COM, BANJAR – Upaya pencegahan stunting dan peningkatan kesadaran gizi masyarakat terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP). Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah dengan menggelar Sosialisasi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) di Desa Karang Intan, Kecamatan Karang Intan, Rabu (25/6/2025).
Kegiatan yang digelar oleh Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan DKPP ini turut dihadiri oleh Pembakal Desa Karang Intan Ari Rujani, Bidan Desa, serta Ketua Tim Penggerak PKK Desa Karang Intan, menandakan keterlibatan lintas sektor dalam kampanye hidup sehat berbasis konsumsi pangan lokal yang bergizi.
Dalam sambutannya, Kabid Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan DKPP Banjar, Siti Hadizah, menegaskan bahwa sosialisasi B2SA bukan sekadar kampanye satu arah, tetapi bagian dari intervensi gizi berbasis komunitas yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pola makan yang tepat.
“Melalui pola konsumsi B2SA, masyarakat didorong untuk mengonsumsi makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga kaya gizi, bervariasi, seimbang, dan aman untuk dikonsumsi,” jelas Siti Hadizah.
Ia juga menyampaikan bahwa sosialisasi B2SA akan digelar di beberapa desa lain yang telah diusulkan dalam Musrenbang dan memiliki angka stunting yang relatif tinggi. Di antaranya adalah Desa Pemakuan, Kahelaan, Peramasan, Simpang Warga, dan Aluh Aluh Kecil Muara.
“Kami prioritaskan desa-desa yang terindikasi membutuhkan intervensi lebih, baik dari sisi gizi maupun pemahaman konsumsi pangan sehat,” tambahnya.
Sementara itu, Pembakal Desa Karang Intan, Ari Rujani, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya desanya sebagai lokasi pelaksanaan sosialisasi. Ia menyebut kegiatan ini sangat relevan dan mendukung program nasional dalam penurunan angka stunting.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Harapan kami, setelah sosialisasi ini warga tidak hanya paham, tapi juga benar-benar menerapkan pola makan B2SA dalam kehidupan sehari-hari. Karena pola konsumsi sehat adalah kunci hidup sehat dan generasi kuat,” ujar Ari.
Tak hanya memberikan materi teori, sosialisasi ini juga menghadirkan dialog dan tanya jawab langsung dengan warga. Warga diajak mengenali contoh makanan lokal yang mudah diakses, tetapi kaya manfaat gizi—seperti singkong, ubi, sayuran hijau, dan protein nabati.
Konsep B2SA yang mengedepankan keanekaragaman pangan lokal dianggap sangat relevan dengan kondisi desa. Pola makan yang bergizi tidak harus mahal, melainkan cukup dengan mengoptimalkan potensi pangan yang tersedia di sekitar rumah.
Kegiatan ini menjadi media edukasi sekaligus penggerak perubahan perilaku, khususnya bagi ibu rumah tangga dan kader PKK yang menjadi ujung tombak dalam manajemen konsumsi keluarga.
Sosialisasi B2SA adalah bagian dari pendekatan holistik Pemerintah Kabupaten Banjar dalam mengatasi permasalahan gizi kronis seperti stunting. DKPP berupaya menjembatani aspek ketahanan pangan dengan praktik konsumsi sehat di level rumah tangga.
Dengan semakin banyak desa yang mendapatkan edukasi dan melakukan praktik pola makan sehat, diharapkan angka stunting di Kabupaten Banjar dapat terus ditekan secara signifikan.
Kegiatan yang digelar oleh Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan DKPP ini turut dihadiri oleh Pembakal Desa Karang Intan Ari Rujani, Bidan Desa, serta Ketua Tim Penggerak PKK Desa Karang Intan, menandakan keterlibatan lintas sektor dalam kampanye hidup sehat berbasis konsumsi pangan lokal yang bergizi.
Dalam sambutannya, Kabid Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan DKPP Banjar, Siti Hadizah, menegaskan bahwa sosialisasi B2SA bukan sekadar kampanye satu arah, tetapi bagian dari intervensi gizi berbasis komunitas yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pola makan yang tepat.
“Melalui pola konsumsi B2SA, masyarakat didorong untuk mengonsumsi makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga kaya gizi, bervariasi, seimbang, dan aman untuk dikonsumsi,” jelas Siti Hadizah.
Ia juga menyampaikan bahwa sosialisasi B2SA akan digelar di beberapa desa lain yang telah diusulkan dalam Musrenbang dan memiliki angka stunting yang relatif tinggi. Di antaranya adalah Desa Pemakuan, Kahelaan, Peramasan, Simpang Warga, dan Aluh Aluh Kecil Muara.
“Kami prioritaskan desa-desa yang terindikasi membutuhkan intervensi lebih, baik dari sisi gizi maupun pemahaman konsumsi pangan sehat,” tambahnya.
Sementara itu, Pembakal Desa Karang Intan, Ari Rujani, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya desanya sebagai lokasi pelaksanaan sosialisasi. Ia menyebut kegiatan ini sangat relevan dan mendukung program nasional dalam penurunan angka stunting.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Harapan kami, setelah sosialisasi ini warga tidak hanya paham, tapi juga benar-benar menerapkan pola makan B2SA dalam kehidupan sehari-hari. Karena pola konsumsi sehat adalah kunci hidup sehat dan generasi kuat,” ujar Ari.
Tak hanya memberikan materi teori, sosialisasi ini juga menghadirkan dialog dan tanya jawab langsung dengan warga. Warga diajak mengenali contoh makanan lokal yang mudah diakses, tetapi kaya manfaat gizi—seperti singkong, ubi, sayuran hijau, dan protein nabati.
Konsep B2SA yang mengedepankan keanekaragaman pangan lokal dianggap sangat relevan dengan kondisi desa. Pola makan yang bergizi tidak harus mahal, melainkan cukup dengan mengoptimalkan potensi pangan yang tersedia di sekitar rumah.
Kegiatan ini menjadi media edukasi sekaligus penggerak perubahan perilaku, khususnya bagi ibu rumah tangga dan kader PKK yang menjadi ujung tombak dalam manajemen konsumsi keluarga.
Sosialisasi B2SA adalah bagian dari pendekatan holistik Pemerintah Kabupaten Banjar dalam mengatasi permasalahan gizi kronis seperti stunting. DKPP berupaya menjembatani aspek ketahanan pangan dengan praktik konsumsi sehat di level rumah tangga.
Dengan semakin banyak desa yang mendapatkan edukasi dan melakukan praktik pola makan sehat, diharapkan angka stunting di Kabupaten Banjar dapat terus ditekan secara signifikan.



