REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat sebanyak 7.975 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Jumlah tersebut meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu seiring mulai munculnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin mengatakan, peningkatan kasus ISPA menjadi salah satu indikator mulai memburuknya kualitas udara akibat musim kemarau dan karhutla di sejumlah wilayah.
“Peningkatannya lumayan, dua kali lipat dibandingkan tahun kemarin. Jadi kita anggap karhutla sudah mulai mempengaruhi kesehatan masyarakat, khususnya infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA,” ujarnya, Rabu (29/7/26).
Meski belum merinci peringkat setiap daerah, Diauddin menyebut kasus ISPA terbanyak umumnya berasal dari wilayah berpenduduk padat.
“Kasus ISPA paling banyak umumnya ditemukan di daerah dengan jumlah penduduk yang besar, seperti Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin,” tuturnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan bersama jajaran Kabupaten dan Kota telah melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah serta mengimbau penggunaan masker ketika kualitas udara memburuk.
“Kawan-kawan di unit khusus sudah berjalan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Sebagian sekolah juga kami imbau memakai masker kalau kondisi cuaca sudah tidak sehat,” katanya.
Selain edukasi, Dinas Kesehatan juga menyiapkan stok masker untuk didistribusikan kepada masyarakat, terutama bagi anak-anak sekolah yang dinilai lebih rentan terdampak kabut asap.
“Pembagian masker memang dibutuhkan. Kami juga mengimbau Kabupaten dan Kota membagikan masker sebagai perlindungan, khususnya bagi anak-anak sekolah. Stok yang kami siapkan biasanya di atas 10 ribu masker,” pungkasnya.



