REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius bagi aktivitas belajar di Kota Banjarbaru.
Seperti Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Syamsudin Noor terus mengevaluasi pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan membuka kemungkinan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sesuai kondisi di lapangan.


Sebab, bau menyengat dari kebakaran lahan gambut masih terasa, sementara kualitas udara menjadi perhatian bagi keselamatan dan kesehatan para siswa.
Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarbaru sebelumnya menerapkan PJJ dan memperpanjang kebijakan tersebut hingga 3 September 2026.
Namun, pelaksanaan belajar dari rumah juga menghadirkan tantangan tersendiri sehingga sekolah mulai mencari pola pembelajaran yang dapat menyesuaikan kondisi kabut asap.
Kepala SDN 4 Syamsudin Noor, Rahmita Sari menyampaikan, mayoritas orang tua sebelumnya memilih PJJ berdasarkan hasil survei yang dilakukan pihak sekolah.
“Berdasarkan hasil survei kemarin, orang tua itu memang 50 persen lebih memilih PJJ,” ujarnya.
Setelah melakukan evaluasi dan rapat bersama Dinas Pendidikan, sekolah kembali memberikan ruang kepada orang tua untuk menentukan pilihan pembelajaran.
Wali murid akan kembali disurvei dengan dua opsi, yakni melanjutkan PJJ atau mengikuti PTM terbatas.
“Tetapi setelah kemarin dirapatkan bersama Disdik, keputusan akan dikembalikan ke sekolah. Maka sekolah akan memberikan survei lagi kepada orang tua dengan pilihan ada PTM (pembelajaran tatap muka) terbatas atau PJJ,” jelasnya.
Jika PTM terbatas dipilih, maka pelaksanaannya akan menyesuaikan kondisi kabut asap. Siswa tidak diwajibkan masuk terlalu pagi dan jam belajar juga dapat berubah sesuai tingkat kepekatan asap pada hari tersebut.
“PTM terbatas ini bisa kita toleransi untuk anak-anak datang ke sekolah jam 08.30 sampai jam 09.00 Wita, namun tetap melihat posisi kabut apakah sangat pekat pada hari itu atau tidak,” tuturnya.
Sementara untuk durasi belajar juga akan dipersingkat guna mengurangi waktu siswa berada di lingkungan sekolah.
Siswa kelas rendah direncanakan pulang sekitar pukul 12.00 Wita, sedangkan kelas tinggi menyelesaikan pembelajaran selepas salat Dzuhur.
“Materi pembelajaran pun dikondisikan agar tidak membebani siswa dalam durasi belajar yang relatif singkat tersebut,” tuntasnya.



