REDAKSI8.COM, KALSEL – Ditengah musim kemarau, hujan sempat mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel), seperti Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) dan Kabupaten Balangan pada minggu sebelumnya yang ternyata dipicu oleh kondisi berbeda.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan hujan di Tanah Bumbu terjadi secara alami, sementara hujan deras yang sebelumnya melanda Balangan berkaitan dengan pergeseran awan dari dampak Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).


Forecaster Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Made Anggun Dwi Utami mengatakan, hujan yang turun di Tanah Bumbu pada Rabu (2/9/26) bukan hasil dari OMC.
“Kalau yang di Tanah Bumbu kemarin hujan itu karena murni hujan, bukan karena OMC, karena belum ada kegiatan OMC untuk periode ini,” ujarnya, Kamis (3/9/26).
Berdasarkan pemantauan model prakiraan cuaca EFS, kondisi atmosfer di Kalimantan Selatan secara umum diprakirakan berawan hingga berawan tebal.
Meski demikian, peluang hujan ringan tetap terdeteksi di sejumlah wilayah.
Potensi hujan ringan diprakirakan terjadi di wilayah timur Kalsel pada 2–4 September.
Peluang hujan kemudian diprediksi bergeser ke wilayah utara pada 5 September, sebelum meluas ke sebagian besar wilayah Kalsel pada 6–8 September.
Namun, BMKG mengingatkan prakiraan tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer.
“Cuman masih namanya prediksi bisa terjadi bisa enggak, jadi memang menurut pantauan model seperti itu,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarbaru, Ota Welly Jenny Thalo mengatakan, hasil analisis menunjukkan awan dari kawasan pelaksanaan OMC bergeser ke arah Balangan hingga akhirnya memicu hujan.
“Hujan di Balangan beberapa hari yang lalu memang terjadi di sana. Tetapi setelah dianalisis, ternyata ada kegiatan OMC di IKN. Awan-awannya agak bergeser sedikit ke arah Balangan dan jatuhnya hujan ke Balangan,” katanya.
Selain membawa hujan, aktivitas awan Cumulonimbus (CB) juga menimbulkan dampak cuaca ekstrem berupa downdraft atau hempasan angin kuat ke permukaan.
“Hal itu menyebabkan ada beberapa rumah juga yang rusak di sana akibat downdraft yang sangat kuat, yang berasal dari awan CB atau Cumulonimbus,” jelasnya.
BMKG akan terus memantau perkembangan atmosfer untuk melihat peluang terbentuknya awan hujan di Kalimantan Selatan.
“Pemantauan dilakukan terhadap potensi hujan alami maupun kondisi cuaca yang dapat mendukung pelaksanaan OMC di wilayah Kalimantan Selatan,” tutupnya.



