REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Banjir dan cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Kota Banjarbaru berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman padi dan hortikultura.
Meski demikian, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru memastikan ketersediaan pangan, terutama komoditas cabai, masih dalam kondisi aman.


Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan DKP3 Banjarbaru, Wiwin Robiaty mengatakan, dampak paling terasa terjadi pada tanaman padi akibat banyaknya semaian yang mati terendam banjir.
“Banyaknya semaian padi yang mati karena banjir sehingga perlu semai ulang. Dan lahan yang paling banyak terdampak itu adalah Kelurahan Bangkal dan Palam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sekitar 70 persen lahan pertanian yang sebelumnya tergenang kini airnya mulai surut dalam beberapa minggu terakhir dan sudah bisa kembali digunakan.
“Saat ini sudah ada sekitar 20 borong padi yang ditanam,” ucapnya.
Setelah air surut, petani mulai melakukan penanaman kembali dengan jenis padi lokal atau padi tahunan yang berlangsung pada periode bulan April hingga September di wilayah Kelurahan Bangkal, Handil Kiai, dan Babu Salam.
Sedangkan untuk wilayah Palam, Wiwin menyebutkan, aktivitas tanam ulang sudah mulai terlihat di sepanjang lahan pertanian yang sebelumnya terendam.
“Mulai pinggir jalan tanah daerah Palam dari pinggir sampai tengah jalan sudah mulai ditanami. Jadi sudah mulai melakukan penanaman kembali setelah banjir itu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam penanganan dampak banjir di sektor pertanian, DKP3 Banjarbaru berkolaborasi dengan penyuluh pertanian yang secara rutin melakukan pendampingan kepada para petani.
“Penyuluh pertanian biasanya melakukan kunjungan rutin,” ujarnya.
Sementara itu, terkait ketersediaan pangan hortikultura, khususnya cabai, Wiwin menegaskan kondisi stok di Kota Banjarbaru masih aman.
Sebab menurutnya, ketersediaan cabai di Banjarbaru tidak hanya bersumber dari produksi lokal, tetapi juga pasokan dari luar daerah, baik dari Pulau Jawa maupun Kabupaten lain di Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Baik produksi di sini, yang masuk dari luar Jawa dan Kabupaten di Kalsel yang mensupply untuk ketersediaan cabai yang ada di Kota Banjarbaru,” katanya.
Berdasarkan data DKP3, pada pekan keempat bulan Januari ketersediaan cabai rawit di Kota Banjarbaru mencapai 16 ton, sementara kebutuhan masyarakat hanya sekitar 6 ton.
“Jadi ketersediaan cabai khususnya cabai rawit masih 16 ton. Sedangkan kebutuhan untuk cabai di Kota Banjarbaru itu 6 ton, jadi masih ada kelebihan 10 ton,” bebernya.
Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan ketersediaan cabai di Banjarbaru masih aman untuk satu pekan ke depan.
Meski terjadi kenaikan harga, menurutnya karena dipengaruhi oleh perbedaan lokasi pasar dan distribusi.
“Kalaupun ada mengalami kenaikan sedikit itu karena mungkin perbedaan dari tiap-tiap pasar ya,” pungkasnya.



