REDAKSI8.COM, BANJAR – Dinas Pertanian Kabupaten Banjar (Distan) bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan mempercepat pengolahan lahan sawah pascapanen di sejumlah kecamatan. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus mempersiapkan lahan agar dapat segera ditanami kembali pada musim tanam berikutnya.

Percepatan pengolahan lahan tersebut menjadi bagian dari upaya menindaklanjuti arahan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, pada Selasa (13/10/2026), yang menekankan pentingnya pengendalian karhutla, termasuk di kawasan pertanian yang memiliki potensi kebakaran saat musim kemarau.

Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, sekitar 850 hektare lahan sawah pascapanen di Kabupaten Banjar menjadi sasaran percepatan pengolahan. Lahan tersebut menjadi perhatian karena sisa-sisa tanaman padi yang tertinggal setelah panen dapat mengering dan berpotensi menjadi bahan bakar apabila terjadi pembakaran terbuka.

Melalui kegiatan ini, jerami dan sisa tanaman padi diolah serta dicampurkan ke dalam tanah menggunakan alat dan mesin pertanian (alsintan). Cara tersebut diharapkan dapat mengurangi penumpukan material kering di permukaan sawah, sehingga risiko munculnya api akibat pembakaran sisa panen dapat ditekan.

Selain sebagai langkah pencegahan kebakaran, pengolahan tanah juga menjadi tahapan penting untuk mempersiapkan lahan menghadapi musim tanam berikutnya. Dengan pengolahan yang dilakukan lebih awal, petani diharapkan memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan lahan sebelum penanaman padi dimulai.

Untuk mendukung percepatan tersebut, Distan mengerahkan alsintan berupa traktor roda empat dan rotavator secara bertahap ke sejumlah lokasi prioritas. Pengoperasian peralatan ini ditujukan untuk mempercepat pekerjaan yang membutuhkan waktu dan tenaga cukup besar apabila hanya mengandalkan pengolahan secara manual.

Rotavator membantu mencacah dan mencampurkan sisa tanaman dengan tanah, sedangkan traktor mendukung proses pengolahan lahan sesuai dengan peralatan yang digunakan dan kondisi sawah. Melalui pemanfaatan alsintan, pengolahan diharapkan dapat berlangsung lebih efektif, terutama pada lahan yang sudah selesai dipanen dan siap dikerjakan.

Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan Brigade Pangan dari Kecamatan Gambut, Sungai Tabuk, Kertak Hanyar, Martapura Barat, Beruntung Baru, dan Tatah Makmur. Keterlibatan Brigade Pangan diharapkan membantu memperkuat koordinasi di lapangan, mendukung pemanfaatan alsintan, serta mempercepat pelayanan pengolahan lahan bagi petani.

Di samping kegiatan teknis, petugas pertanian turut melakukan sosialisasi kepada kelompok tani dan masyarakat sekitar. Petani diimbau tidak membakar jerami maupun sisa tanaman setelah panen karena api dapat merambat ke area lain, terutama ketika kondisi lahan dan vegetasi di sekitarnya mengering.

Pembakaran terbuka juga berisiko menghasilkan asap yang mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar persawahan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas sosial, transportasi, dan perekonomian apabila kebakaran meluas.

Karena itu, petani didorong memanfaatkan fasilitas alsintan yang tersedia melalui Brigade Pangan maupun yang difasilitasi Dinas Pertanian. Pengelolaan sisa panen tanpa pembakaran diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan budidaya yang lebih aman dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, mengatakan percepatan pengolahan lahan memiliki dua tujuan utama, yakni mengurangi potensi karhutla sekaligus mempersiapkan lahan untuk percepatan musim tanam tahap kedua.

“Percepatan olah tanah ini tidak hanya untuk meminimalkan ancaman karhutla, tetapi juga mempersiapkan lahan untuk percepatan musim tanam tahap kedua menggunakan benih unggul. Bagi wilayah yang memiliki ketersediaan air atau didukung irigasi teknis, percepatan tanam juga diupayakan melalui optimalisasi pola PMAAS,” ujar Warsita.

Menurutnya, kesiapan lahan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kelancaran musim tanam. Pengolahan yang dilakukan lebih awal diharapkan dapat mengurangi waktu tunggu setelah panen, sehingga petani dapat segera melanjutkan kegiatan budidaya ketika kondisi lahan dan ketersediaan air memungkinkan.

Meski demikian, pelaksanaan percepatan tanam masih menghadapi tantangan, terutama di kawasan persawahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan. Berbeda dengan lahan yang memiliki dukungan irigasi teknis, sawah tadah hujan membutuhkan pasokan air yang memadai agar proses penanaman dapat dilakukan secara optimal.

Warsita berharap hujan segera turun dan membasahi kawasan persawahan tadah hujan di Kabupaten Banjar. Dengan dukungan curah hujan yang cukup, petani diharapkan dapat melaksanakan penanaman secara serentak sesuai kesiapan lahan masing-masing.

Percepatan pengolahan lahan juga diharapkan memberikan ruang bagi petani untuk mempersiapkan benih unggul serta kebutuhan budidaya lainnya sebelum memasuki musim tanam berikutnya. Dengan demikian, penanganan pascapanen tidak hanya berorientasi pada pencegahan kebakaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan produksi pertanian.

Melalui kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah provinsi, Brigade Pangan, dan kelompok tani, Kabupaten Banjar berupaya menyelaraskan pencegahan karhutla dengan percepatan kegiatan pertanian. Keberhasilan langkah ini diharapkan dapat membantu menekan risiko kebakaran di kawasan persawahan, menjaga produktivitas padi, serta mendukung ketahanan pangan daerah.

Catatan redaksi: Sebelum diterbitkan, pastikan kembali jumlah alsintan yang dikerahkan. Data awal menyebut 42 unit, sedangkan rincian 19 unit di Kertak Hanyar, 22 unit di Gambut, dan 11 unit di Sungai Tabuk berjumlah 52 unit. Istilah PMAAS juga perlu dikonfirmasi penulisan dan kepanjangannya kepada Distan Banjar.