REDAKSI8.COM, KALSEL– Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) sejak akhir Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026 berdampak signifikan terhadap ratusan ribu warga.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat sedikitnya ada 32 ribu rumah dengan total sekitar 220 ribu jiwa terdampak banjir.


Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra menyebut, Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan kondisi paling parah sehingga penanganan di daerah tersebut diprioritaskan.
“Dalam beberapa hari ke depan BPBD memfokuskan penanganan di Kabupaten Banjar yang jadi wilayah banjir terparah,” ujarnya saat dimintai keterangan, Senin (19/01/26).
Sebagai bagian dari upaya penanganan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sejak 14 Januari 2026 guna menekan intensitas curah hujan di wilayah terdampak.
Setelah penanganan di Kabupaten Banjar mulai terkendali, BPBD Kalsel berencana mengalihkan fokus ke daerah lain yang juga terdampak banjir, termasuk Kabupaten Barito Kuala.
“Apabila setelah dari Banjar selesai, kami akan bergeser ke daerah lain. Seperti daerah Jejangkit Batola dalam waktu dekat, bantuan logistik bagi warga terdampak juga akan kembali disalurkan,” jelasnya.
Pihaknya memastikan, pemantauan kondisi banjir terus dilakukan secara intensif, bersamaan dengan optimalisasi distribusi bantuan dan upaya pemulihan bagi masyarakat terdampak.
Meski dalam beberapa hari terakhir hujan tidak lagi mengguyur sebagian besar wilayah Kalsel, Ronny mengingatkan potensi banjir rob masih perlu diwaspadai.
“Untuk banjir rob masih akan terjadi, tetapi dampaknya tidak separah kemarin,” tutupnya.



