REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Setelah berhari-hari dilanda panas ekstrem, cuaca di Kalimantan Selatan (Kalsel) mendadak berubah, hujan deras disertai angin kencang dan petir mengguyur sejumlah wilayah, mulai dari Kota Banjarbaru hingga Banjarmasin.
Fenomena cuaca mendadak itu menyebabkan sejumlah baliho dan spanduk di Banjarbaru roboh tertiup angin.
Sementara di beberapa titik di Banjarmasin, hujan lebat memicu tumbangnya pohon-pohon di tepi jalan.
Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) Syamsudin Noor Banjarmasin, Ota Welly Jenni Thalo menjelaskan, hujan dengan intensitas tinggi yang melanda hampir seluruh wilayah Kalsel dipicu oleh aktivitas bibit siklon di Filipina, pola siklonik di utara Kalimantan, serta belokan angin yang mendorong pembentukan awan hujan secara masif.
“Hujan lebat yang meluas di Kalsel terjadi karena adanya bibit siklon di Filipina, pola siklonik di utara Kalimantan, serta belokan angin yang menumpuk awan-awan hujan,” ujarnya, Sabtu (18/10/25).
Ia menegaskan, kondisi atmosfer tersebut juga menandakan wilayah Kalsel mulai beralih ke musim hujan, sesuai dengan prediksi dari Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat.
“Sesuai hasil analisis klimatologi, Kalsel memang sudah memasuki awal musim hujan,” ucapnya.
Sebelumnya, Forecaster Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Kalsel, Sri Widyastuti memaparkan, cuaca panas ekstrem yang sempat dirasakan masyarakat merupakan dampak dari gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia.
“Suhu panas yang terasa menyengat terjadi karena kombinasi posisi gerak semu matahari dan angin Monsun Australia yang membawa udara kering,” jelasnya.
Ia menjelaskan, fenomena panas terik itu masih akan terasa hingga akhir Oktober atau awal November 2025, sebelum seluruh wilayah benar-benar memasuki musim hujan.
“Selama beberapa minggu terakhir, wilayah Indonesia yang berada di bawah garis ekuator, termasuk Kalimantan Selatan, turut mengalami kondisi serupa,” tuturnya.
Penguatan angin timuran yang membawa massa udara kering dan hangat membuat pembentukan awan menjadi terbatas, sehingga radiasi matahari langsung memanaskan permukaan bumi.
Meski demikian, data BMKG mencatat bahwa sekitar 6,4 persen wilayah Kalsel sebenarnya telah diguyur hujan sejak akhir Agustus.
“Sejumlah daerah bahkan sudah mengalami awal musim hujan sejak pertengahan September, meski belum terjadi secara merata,” tutupnya.
BMKG memperkirakan puncak musim hujan di Kalimantan Selatan akan berlangsung pada November 2025, dengan potensi curah hujan tinggi di beberapa wilayah pegunungan dan pesisir.



