REDAKSI8.COM, Kabupaten Banjar – Pengolahan pangan lokal menjadi salah satu alternatif diversifikasi produk yang akan mendorong kemandirian masyarakat, motivasi usaha, membangun kesadaran, pengetahuan dan keterampilan, terutama bagi kelompok perempuan.
Apalagi di sekitar kita, ada 77 jenis karbohidrat. Belum lagi kita punya 75 jenis protein, 110 jenis rempah, 40 jenis bahan pangan, 389 jenis buah-buahan, dan 228 jenis sayuran yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Hari pangan sedunia atau world food day yang jatuh pada 16 Oktober 2023, diperingati oleh para ibu dari berbagai kelompok, mulai dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Lebah Madu (Mataraman), Kali Putat, Sumber Rezeki (Simpang Empat), Kader Posyandu, anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dengan mengolah pangan keluarga dari tanaman pekarangan yang telah dibudidayakan.

Dengan tema “Empowering Women Through My Garden, My Food Safety (My GFS)”, PT Banjar Bumi Persada (BBP) dan PT Mitra Agro Semesta (MAS) mengajak para ibu belajar Bersama mengolah diversifikasi makanan berbahan dasar tanaman pekarangan yang bisa dimanfaatkan dengan nilai gizi yang baik bagi keluarga. Melalui diversifikasi makanan dan nutrisi yang baik, tentunya angka stunting juga dapat diturunkan.
Kali ini, Nor Qomariyah, Public Relations dari PT BBP-PT MAS, memberikan materi dan demonstrasi dalam pelatihan tentang pembuatan ”Mie Bayam” yang secara spesifik bernilai karoten tinggi dengan kandungan vitamin A.
Mie Bayam menjadi pilihan materi pelatihan, karena kegemaran para ibu dalam penyajian makanan keluarga, seringkali dinilai lebih praktis. Apalagi disukai di semua umur.
Dengan membuat mie sendiri, tentunya secara kualitas makanan akan lebih baik, bernilai gizi yang cukup, apalagi bahannya sangat mudah didapat, tumbuh di pekarangan.
Sejalan dengan My Garden, My Food Safety (My GFS) yang menjadi program ketahanan pangan rumah tangga, sesuai dengan aspek ke-3 Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) (pendapatan riil dan pekerjaan) dan aspek 4 (kemandirian ekonomi) dan SDGs 2 (Zero Hunger) nilai lain yang didapat para ibu adalah ekonomi yang bisa dihasilkan dari olahan mie, tentunya bisa menghemat pengeluaran belanja dan juga bisa menjadi diversifikasi produk UMKM.

Ditambahkan oleh Nor, Mie Bayam bisa bertahan 3-4 hari dalam bentuk mie basah dengan penyimpanan dalam lemari es, ataupun dalam bentuk baked atau proses pemanggangan dan proses penjemuran tanpa sinar matahari langsung.
Sementara itu, KWT Kali Putat dari Kecamatan Simpang Empat, dalam kesempatan yang sama juga sharing pembuatan olahan pangan yang berbahan buah, seperti buah naga, pisang, mangga, jeruk, semangka dan lainnya.
Es krim menjadi pilihan produk karena mudah diolah dan disukai semua kalangan. Terlebih punya peluang ekonomi tinggi, untuk menjadi usaha skala rumah tangga dengan pengolahan yang sederhana.
Pelatihan ini diikuti oleh 25 peserta, selama 3 jam, di rumah salah satu KWT yang berada di Sungai Bokor, Desa Pematang Danau Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar.
Rohatun, salah satu peserta menyebut, pelatihan ini sangat bermanfaat, mudah dipraktekkan, dan bahan yang terjangkau, dimana tersedia di pekarangan rumah.
Rasa Mie Bayam lebih gurih, kenyal dan cocok buat keluarga. Saya berharap ada pelatihan seperti ini untuk selanjutnya, bisa praktek langsung dan mencicipi bersama.
Pentingnya diversifikasi pangan melalui pemanfaatan pekarangan juga sejalan dengan program nasional pangan lestari yang juga sebagai langkah nyata Indonesia untuk maju memerangi stunting dan juga peningkatan inovasi makanan olahan, khususnya bagi Ibu rumah tangga.



