REDAKSI8.COM, BANJAR – Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) terus mendorong lahirnya inovasi pembangunan kawasan perdesaan yang berkelanjutan. Salah satu terobosan yang tengah dipersiapkan adalah pengembangan Agrovoltaic Eco Tourism Hub, sebuah konsep pembangunan terpadu yang menggabungkan pertanian modern, energi baru terbarukan, pariwisata edukatif, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Banjar dengan tim peneliti dari Bappenas, Institute for Global Environmental Strategies (IGES), dan Citieslab. Pertemuan ini dihadiri Kepala Bapperida Kabupaten Banjar Hj. Anna Rosida Santi, Ketua Tim Peneliti IGES Bijon Kumer Mitra bersama Satoshi Kojima dan Mika Tachibana, Dayinta Pinasthika dari Citieslab, serta jajaran pejabat dan perencana di lingkungan Bapperida.


Dalam pemaparannya, tim peneliti menilai Kabupaten Banjar memiliki potensi besar untuk mengembangkan kawasan terpadu berbasis ekowisata. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari sektor pertanian, tetapi juga wisata religi, perikanan, produk unggulan daerah, kekayaan budaya, serta sumber daya masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Konsep Agrovoltaic Eco Tourism Hub menawarkan pendekatan inovatif melalui pemanfaatan teknologi agrovoltaik, yakni sistem yang mengombinasikan kegiatan pertanian dengan pembangkit listrik tenaga surya. Melalui pemasangan panel surya di atas lahan budidaya, satu kawasan dapat menghasilkan produk pertanian sekaligus energi bersih secara bersamaan.
Teknologi ini dinilai mampu mendukung penerapan smart farming atau pertanian cerdas yang lebih efisien, produktif, dan ramah lingkungan. Selain meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, pendekatan tersebut juga diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk kembali melirik sektor pertanian sebagai bidang usaha yang modern, berbasis teknologi, dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.
Tidak hanya berorientasi pada produksi pangan dan energi, kawasan ini juga dirancang sebagai destinasi wisata edukatif berbasis lingkungan. Pengunjung nantinya dapat mempelajari pemanfaatan energi terbarukan, teknologi pertanian modern, pengolahan produk lokal, hingga mengenal budaya dan potensi khas Kabupaten Banjar dalam satu kawasan yang terintegrasi.
Menurut tim peneliti, penggabungan sektor pertanian, energi, dan pariwisata dalam satu ekosistem dapat menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa sekaligus memperkuat pembangunan wilayah secara berkelanjutan. Model ini juga dinilai mampu meningkatkan daya saing daerah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan transformasi ekonomi masa depan.
Meski menawarkan banyak manfaat, Pemerintah Kabupaten Banjar menegaskan bahwa pengembangan agrovoltaik harus didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif. Karena itu, Bapperida mengusulkan agar implementasi program diawali melalui proyek percontohan atau pilot project guna menguji kesesuaian teknologi dengan kondisi lahan, karakteristik masyarakat, dan komoditas unggulan daerah.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah dampak pemasangan panel surya terhadap produktivitas tanaman, khususnya padi. Menanggapi hal tersebut, tim peneliti menjelaskan bahwa dengan desain dan pengaturan jarak panel yang tepat, kebutuhan sinar matahari bagi tanaman tetap dapat terpenuhi sehingga proses budidaya tidak terganggu.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas sejumlah alternatif lokasi yang berpotensi menjadi kawasan percontohan, mulai dari lahan milik pemerintah daerah, kawasan pertanian masyarakat, sentra perikanan, hingga wilayah yang memiliki potensi wisata dan edukasi.
Tim peneliti menambahkan bahwa konsep agrovoltaik telah diterapkan di beberapa negara seperti Jepang dan Bangladesh. Namun, setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga desain dan model penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi lokal melalui studi kelayakan, penyusunan desain teknis, identifikasi pola kolaborasi, serta penjajakan berbagai sumber pembiayaan, termasuk peluang dukungan dari lembaga donor dan mitra pembangunan internasional.
Kepala Bapperida Kabupaten Banjar Hj. Anna Rosida Santi menegaskan bahwa keberhasilan Agrovoltaic Eco Tourism Hub sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan perangkat daerah, pemerintah desa, kelompok tani, PLN, perguruan tinggi, mitra pembangunan, dan masyarakat menjadi faktor utama agar inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap perencanaan, melainkan dapat diwujudkan dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Banjar bersama IGES dan Citieslab akan melanjutkan pembahasan melalui berbagai forum dan lokakarya lanjutan. Langkah ini dilakukan untuk mematangkan konsep Agrovoltaic Eco Tourism Hub sebagai model pembangunan kawasan perdesaan masa depan yang mampu menghubungkan energi bersih, pertanian modern, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.



