REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Bibit siklon tropis 91S terdeteksi di Samudera Hindia bagian Barat, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan (Kalsel) menegaskan sistem itu masih berpotensi rendah untuk berkembang, namun tetap dapat memicu cuaca ekstrem sehingga perlu diwaspadai masyarakat.
Bibit tersebut terpantau terbentuk pada 7 Desember 2025 di Samudera Hindia bagian Barat, tepatnya di sekitar wilayah perairan barat Lampung.
Ketua Pokja Pengelolaan Data dan Informasi BMKG Kalsel, Wiji Cahyadi menyampaikan, peluang bibit itu meningkat menjadi siklon penuh masih rendah.
“Potensi bibit siklon tropis untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada pada kategori rendahya, mudah-mudahan tidak terjadi ya selama satu hingga tiga hari ke depan,” ujarnya, Rabu (10/12/25).
Ia menyebutkan, wilayah yang berpotensi menerima dampak tidak langsung dari sistem tersebut.
Namun, pemetaan itu penting untuk memberikan kewaspadaan dini kepada masyarakat, sebab sejumlah daerah berada dalam zona warna merah yang menunjukkan potensi cuaca ekstrem.
“Untuk saat ini, ini adalah wilayah yang terdampak karena warna merah ya, terutama di Sumatera karena sebanyak ini dampak tidak langsung bibit siklon tropis terhadap kondisi ekstrem dan perairan di wilayah Indonesia dalam 24 jam hingga 10 Desember 2025,” jelasnya.
Meski peluangnya kecil, Wiji menekankan, bahwa bibit siklon tropis tetap dapat memberikan dampak tidak langsung pada wilayah Indonesia, termasuk Kalsel.
“Dampak tersebut terutama berkaitan dengan meningkatnya intensitas hujan, angin kencang, dan kondisi gelombang tinggi di sejumlah perairan,” tuturnya.
BMKG menilai interaksi antara bibit siklon dan pola angin musiman bisa memperkuat pembentukan awan hujan.
“Puncak musim hujan untuk Kalimantan Selatan secara umum di bulan November dan Desember,” ucapnya.
Bahkan, katanya analisis BMKG menunjukkan, wilayah dengan curah hujan tinggi dalam periode itu lebih rentan terdampak, khususnya di daerah pesisir, bantaran sungai, dan kawasan drainase terbatas.
“Tetap waspada, mengingat kondisi ini dapat memicu cuaca ekstrem dalam skala lokal,” tegasnya.
Meski demikian, Wiji merekomendasikan agar masyarakat untuk terus mengikuti pembaruan informasi cuaca dan peringatan dini yang dirilis secara berkala, terutama menjelang puncak musim hujan Desember–Januari.
“Selain hujan lebat, masyarakat juga diminta mengantisipasi potensi banjir, banjir bandang, serta tanah longsor di wilayah perbukitan,” tutupnya.



