REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Cuaca hujan dan panas yang tidak menentu dalam dua bulan terakhir membuat petani cabai dan sayuran di wilayah Banjarbaru kembali kelimpungan.
Perubahan cuaca yang cepat itu memicu serangan penyakit, bahkan menurunkan kualitas dan jumlah hasil panen.
Petani cabai, Rukadi mengaku, musim sekarang menjadi masa paling berat bagi petani.
“Kalau musim hujan panas-hujan panas ini ya petani mengeluh, karena penyakitnya banyak, semua penyakit muncul,” ujarnya, Jum’at (14/11/25).
Ia menjelaskan, pada panen pertama, tanaman cabainya masih bisa menghasilkan sekitar 150 kilogram. Namun memasuki tanam kedua, hasilnya langsung anjlok.
“Tanam kedua ini masih muda, paling dapat sekarung. Tetap lebih sedikit dari buah pertama,” jelasnya.
Selain itu, menurutnya tanaman yang semakin tua lebih mudah diserang penyakit, ditambah kenaikan harga cabai yang saat ini juga belum cukup menutup biaya di lapangan.
Adapun harga cabai keriting sekarang di angka Rp21 ribu, sementara cabai japlak Rp15 ribu per kilogram.
“Dulu Rp10 ribu, kadang sampai Rp9 ribu. Naiknya jadi Rp15 ribu baru sekitar satu mingguan. Tapi Rp10 ribu itu saja dulu buat bayar buruh tidak cukup,” ungkapnya.
Meski kondisi berat, Ia tetap harus memanen cabainya, sebab apabila tidak di panen maka tanaman dan buahnya akan rusak.
Senada, petani sayur, Sukiran juga menyebutkan, produksi hasil sayur turun drastis sejak cuaca tidak stabil.
“Kalau biasanya 100 lebih, paling sedikit 100. Sekarang paling 50,” sebutnya.
Ia menilai kondisi tanah berubah akibat hujan-panas yang tidak beraturan, sehingga harga sayur di pasar ikut melonjak.
“Gagalnya sejak musim ini, harganya naik gara-gara langka. Sekarang mendekati dua kali lipat, biasanya Rp5 ribu, sekarang di pasar Rp7 ribu sampai Rp10 ribu per ikat,” tuturnya.
Kendati demikian, Sukiran menegaskan, dengan kondisi sulit seperti ini sudah menjadi risiko bagi para petani.
“Mahal, murah, petani pasti tetap menanam,” tutupnya.



