REDAKSI8.COM – Ada 3 pejabat eselon 2 di lingkup Pemerintah Kabupaten Banjar telah lolos dalam Seleksi Terbuka Jabatan Tinggi Pratama (JTP) Lingkup Pemerintah provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak begitu lama ini. 3 orang ini di informasikan akan menduduki jabatan strategis di Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
3 nama yang sudah mengikuti seleksi tersebut adalah Galuh Tantri Narindra yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Kabupaten Banjar. Dokter Diauddin Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Banjar.
Dan satu lagi adalah Ahmad Solhan yang merupakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar. nasib 3 orang ini tinggal menunggu keputusan dari Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor.
Galuh Tantri Narindra yang berebut posisi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan daerah (Bappeda) Kalsel, Sementara itu Kepala DPMPTSP Kabupaten Banjar Dokter Diauddin yang diajukan ke Gubernur Kalsel untuk memperebutkan posisi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel dan Ahmad Solhan yang akan mengisi Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Prov Kalsel.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banjar Muhammad Rofiqi pada Jumat sore (8/4/2022) kemarin memberikan komentar terkait hal ini. Politisi Gerindra ini menyayangkan 3 putra terbaik Kabupaten Banjar ini malah eksodus ke pemerintahan Provinsi Kalsel.
“Kami sayangkan sekali, Terus terang kita butuh talenta dan kemampuan seperti mereka. Dan kedepan mudahan kejadian seperti ini tak kembali terulang agar orang yang berpotensi baik dan berkemampuan bagus bisa dipertahankan,” ungkapnya
“Berat loh membangun Kabupaten Banjar yang luas ini. Ya kalau saya sebagai pemimpin, seharusnya berikan reward and punishment saja. Kalau kemampuan, pekerjaan bagus dan berdedikasi, berikan reward. Kalau tak bagus beri hukuman, kan begitu,” sarannya.
Ia sendiri menilai moratorium mutasi Aparatur Sipil Negara ke luar daerah hanya menjadi macan kertas saja, karena walau sudah diputuskan, tapi tetap saja dilakukan.
Rofiqi juga menambahkan, menurutnya bahwa ASN yang memilih mutasi keluar daerah ini karena tak merasa nyaman lagi.
“Ya misalnya kalau di rumah tak nyaman, memilih keluar atau bertahan? Bisa jadi masalah kenyamanan atau ada tawaran jabatan di luar yang bagus, kita kurang paham. Tapi seharusnya bisa dipertahankan,” tutupnya.



